Rabu, 31 Juli 2024

Tipe-Tipe Ekosistem

Lingkungan abiotik dan komunitas yang hidup di dalamnya akan menentukan tipe (bentuk) ekosistem. Ekosistem dapat dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu ekosistem perairan (akuatik) dan ekosistem darat (terestrial).

A. Ekosistem Perairan (Akuatik)

Ekosistem perairan adalah ekosistem yang komponen abiotiknya sebagian besar terdiri atas air. Makhluk hidup (komponen biotik) dalam ekosistem perairan dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu sebagai berikut:

• Plankton terdiri atas fitoplankton dan zooplankton. Organisme ini dapat bergerak dan dan berpindah tempat secara pasif karena pengaruh arus air, misalnya ganggang uniseluler dan Protozoa. 
Nekton merupakan organisme yang bergerak aktif (berenang), misalnya ikan dan katak.
Neuston merupakan organisme yang mengapung di permukaan air, misalnya serangga air, teratai, eceng gondok, dan ganggang 
Bentos merupakan organisme yang berada di dasar perairan, misalnya udang, kepiting, cacing, dan Bintang laut. 
Perifiton merupakan organisme yang melekat pada organisme lain, misalnya siput. 

Perhatikan gambar berikut ini:


Ekosistem perairan dibedakan menjadi 2 macam, yaitu ekosistem air tawar dan ekosistem air laut. 

1. Ekosistem Air Tawar 

Ekosistem air tawar memiliki ciri-ciri abiotik sebagai berikut:

• memiliki kadar garam (salinitas) yang rendah, bahkan lebih rendah daripada cairan sel makhluk hidup. 
• dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.
• penetrasi atau masuknya cahaya matahari kurang. 

Bedasarkan keadaan airnya, ekosistem Air tawar dibedakan menjadi 2 macam, yaitu ekosistem air tawar lentik (tenang) dan ekosistem air tawar lotik (mengalir). Ekosistem air tawar lentik, misalnya danau dan rawa. Ekosistem air tawar lotik, misalnya sungai dan air terjun. 

Berdasarkan intensitas cahaya matahari yang menembus air, ekosistem air tawar dibagi menjadi beberapa zona (daerah), yaitu sebagai berikut. 

Zona Litoral merupakan daerah dangkal yang dapat ditembus cahaya matahari hingga ke dasar perairan. 
Zona Limnetik merupakan daerah terbuka yang jauh dari tepian sampai kedalaman yang masih dapat ditembus cahaya matahari. 
Zona Profundal merupakan daerah yang dalam dan tidak dapat ditembus cahaya matahari. Di daerah ini, tidak ditemukan organisme fotosintetik (produsen), tetapi dihuni oleh hewan pemangsa dan organisme pengurai. 



2. Ekosistem Air Laut

Ekosistem air laut memiliki ciri-ciri abiotik sebagai berikut:

• memiliki kadar garam (salinitas) yanf tinggi. 
• Tidak dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. 
• habitat air laut saling berhubungan antara laut yang satu dengan laut yang lain.
• Memiliki variasi perbedaan suhu di bagian permukaan dengan kedalaman laut. 
• Terdapat arus laut yang pergerakannya dapat dipengaruhi oleh arah angin, perbedaan densitas (massa jenis) air, suhu, tekanan air, gaya gravitasi, dan gaya tekonik batuan bumi. 

Berdasarkan intensitas cahaya matahari yang menembus air, ekosistem air laut dibagi menjadi beberapa zona (daerah), yaitu sebagai berikut:

• Zona Fotik merupakan daerah yang dapat ditembus cahaya matahari, kedalaman air kurang dari 200 meter. Organisme yang mampu berfotosintesis banyak terdapat di zona Fotik. 
Zona Twilight merupakan daerah dengan kedalaman air 200 - 2.000 meter. Cahaya matahari remang-remang sehingga tidak efektif untuk fotosintesis. 
Zona Afotik merupakan daerah yang tidak dapat ditembus cahaya matahari sehingga selalu gelap. Kedalaman air lebih dari 2.000 meter. 

Pembagian zona ekosistem air laut dimulai dari pantai hingga ke tengah laut. Yaitu sebagai berikut:

Zona Litoral (pasang surut) merupakan daerah yang terendam saat terjadi pasang dan seperti daratan saat air laut surut. Zona ini berbatasan dengan daratan dan banyak dihuni kelompok hewan, seperti bintang laut, bulu babi, udang kepiting dan cacing laut.
Zona Neritik merupakan daerah laut dangkal, kurang dari 200 meter. Zona ini dapat ditembus cahaya matahari dan banyak dihuni ganggang laut dan ikan. 
Zona batial memiliki kedalaman air 200 - 2.000 meter dan keadaannya remang-remang. Di zona ini, tidak ada produsen, melainkan dihuni oleh nekton (organisme yang aktif berenang), misalnya ikan. 
Zona abisal merupakan daerah palung laut yang keadaannya gelap. Kedalaman air di zona abisal lebih dari 2.000 meter. Zona ini dihuni oleh hewan predator, detritivor (pemakan sisa organisme), dan pengurai. 

Macam-macam ekosistem air laut adalah sebagai berikut: 

a. Ekosistem laut dalam

Ekosistem laut dalam terdapat di laut dalam atau Palung laut yang gelap karena tidak dapat ditembus oleh cahaya matahari. Pada ekosistem laut dalam, tidak ditemukan produsen. Organisme yang dominan, yaitu predator dan ikan yang pada penutup kulitnya mengandung fosfor sehingga dapat bercahaya ditempat yang gelap. 

b. Ekosistem terumbu karang 

Ekosistem terumbu karang terdapat di laut yang dangkal dengan air jernih. Organisme yang hidup di ekosistem ini, antara lain hewan terumbu karang (Coelenterata), hewan spons (Porifera), Mollusca (kerang, siput), bintang laut, ikan, dan ganggang. Ekosistem terumbu karang ini di Indonesia yang cukup terkenal, misalnya Taman Nasional Bawah Laut Bunaken. 

c. Ekosistem estuari 

Ekosistem estuari terdapat di daerah pencampuran air laut dengan air sungai. Salinitas air di estuari lebih rendah daripada air laut, tetapi lebih tinggi dari pada air tawar, yaitu sekitar 5-25 ppm. Di daerah estuari, dapat ditemukan tipe ekosistem yang khas, yaitu padang lamun (seagrass) dan hutan mangrove. 

padang lamun merupakan habitat pantai yang biasanya ditumbuhi seagrass. Tumbuhan ini memiliki rizom dan serabut akar, batang, daun, bunga, bahkan ada yang berbuah. Seagrass berbeda dengan alga karena mempunyai sistem reproduksi dan pertumbuhan yang khas. Seagrass tumbuh menyebar membentuk padang rumput di dalam air dengan perpanjangan rizom. Jenis hewan di padang lamun, antara lain duyung (Dugong dugon), bulu babi (Tripneustes gratilla), kepiting renang (Portunus pelagicus), udang, dan penyu. 

ekosistem hutan mangrove terdapat di daerah tropis hingga subtropis. Ekosistem ini didominasi oleh tanaman bakau (Rhizopora sp.), kayu api (Avicennia sp.), dan bogem (bruguiera sp.). Tumbuhan bakau memiliki akar yang kuat dan rapat untuk bertahan di lingkungan berlumpur yang mudah goyah oleh hempasan air laut. Akar napasnya berfungsi untuk mengambil oksigen langsung dari udara. Tumbuhan bakau memiliki buah dengan biji vivipar yang sudah berkecambah dan berakar panjang saat di dalam buah sehingga langsung tumbuh ketika jatuh ke lumpur. Hewan-hewan yang hidup di ekosistem ini, antara lain burung, buaya, ikan, biawak, kerang, siput, kepiting, dan udang. Hutan mangrove banyak terdapat di pesisir pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Papua, Bali, dan Sumbawa. 

d. Ekosistem pantai pasir

Ekosistem pantai pasir terdiri atas hamparan pasir yang selalu terkena deburan ombak air laut. Di tempat ini, angin bertiup kencang dan cahaya matahari bersinar kuat pada siang hari. Vegetasi atau tumbuhan yang dominan adalah formasi pes-caprae dan formasi barringtonia. Formasi pes-caprae terdiri atas tanaman berbatang lunak dan berbiji (terna), misalnya Ipomea pes-caprae, Vigna marina, dan Spinifex littoreus. Formasi barringtonia terdiri atas perdu dan pohon, misalnya Barringtonia asiatica, Terminalia catappa, Erythrina, Hibiscus tiliaceus, dan Hernandia. Hewan yang hidup di pantai pasir, misalnya kepiting dan burung. Pantai pasir antara lain terdapat di Bali, Lombok, Papua, Bengkulu, dan Bantul (Yogyakarta). 

c. Ekosistem pantai batu

Sesuai dengan namanya, ekosistem pantai batu memiliki banyak bongkahan batu besar maupun batu kecil. Organisme dominan di ekosistem ini, yaitu ganggang coklat, ganggang merah, siput, kerang, kepiting dan burung. Ekosistem ini banyak terdapat di pantai selatan Jawa, pantai barat Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku. 

B. Ekosistem Darat

Ekosistem darat meliputi area yang sangat luas yang disebut bioma. Tipe bioma sangat dipengaruhi oleh iklim, sedangkan iklim dipengaruhi oleh letak geografis garis lintang dan ketinggian tempat dari permukaan laut. Sebagian nama bioma disesuaikan dengan vegetasi (tumbuhan) yang dominan. Terdapat 7 macam bioma di bumi, yaitu hutan hujan tropis, savana, Padang rumput, gurun, hutan gugur, taiga, dan tundra. 

1. Hutan hujan tropis

Sesuai dengan namanya, hutan ini umum ditemui di berbagai kawasan yang beriklim tropis, atau yang dilewati oleh garis khatulistiwa. Masih berkaitan juga dengan namanya, hutan ini memiliki curah hujan yang terbilang tinggi dalam sepanjang tahunnya.

Hutan hujan tropis sering disebut sebagai paru-paru dunia, karena jenis hutan yang satu ini merupakan penghasil oksigen dalam skala besar. Kisaran oksigen yang dihasilkan bahkan mampu untuk menutup 40% kebutuhan oksigen di bumi ini, termasuk yang dibutuhkan oleh manusia.

Kondisi dari hutan ini tergolong selalu basah dan selalu hijau. Selanjutnya, meski keberadaannya hanya sekitar 2% dari keseluruhan permukaan bumi, namun ekosistem di dalamnya bisa mencangkup 50% dari keseluruhan jenis fauna dan flora di bumi ini.

Dengan kapasitasnya yang luar biasa dalam memproduksi oksigen, maka keberadaan hutan ini cukup vital bagi seluruh penghuni bumi. Jika terjadi kerusakan pada daerah tertentu, maka dampaknya bisa saja terasa hingga berbagai penjuru dunia.

2. Sabana (Savana)

Savana merupakan ekosistem khas wilayah dengan curah hujan rendah. Ekosistem ini terdapat di Jawa bagian timur, Nusa Tenggara, sampai ke Papua. Ekosistem savana didominasi oleh rumput, semak, dengan pepohonan yang jarang. Jenis rumput yang dominan di ekosistem savana adalah Heteropogon contortus.

Wilayah kering dan panas menghadirkan eksotika dan keindahan tersendiri. Ekosistem savana menghadirkan suasana Afrika dengan keliaran padang rumput dan aneka satwa di dalamnya. Taman Nasional Baluran di Jawa Timur merupakan salah satu contoh ekosistem savana di Jawa.

Ekosistem savana ini menjadi habitat bagi banteng, rusa, dan aneka jenis burung. Populasi merak dalam jumlah yang besar juga ditemukan di savana tersebut. Sayangnya, ekosistem savana di Baluran menghadapi ancaman oleh invasi jenis pohon asing yaitu akasia Acacia nelotica. Saat ini Acacia nelotica menjadi jenis pohon yang mendominasi savana tersebut.

Contoh lain ekosistem savana ada di Taman Nasional Komodo. Savana di tempat tersebut menjadi habitat satwa khas Komodo Varanus komodoensis. Selain Heteropogon contortus, jenis Themeda australis seringkali merupakan jenis dominan di tempat tersebut.

Di pulau-pulau Nusa Tenggara seperti Sumba dan Flores, ekosistem savana dimanfaatkan sebagai padang penggembalaan ternak, baik kerbau, kuda, maupun sapi.

3. Padang Rumput

Salah satu ekosistem yang ada di Bumi adalah ekosistem padang rumput.

Padang rumput atau grassland umumnya ditemukan di wilayah tropis, seperti Afrika, Indonesia, Australia, dan Amerika.

Sama seperti ekosistem lainnya, dalam ekosistem padang rumput, juga terjadi interaksi makhluk hidup (biotik) dengan lingkungan hidupnya (abiotik).

Ekosistem padang rumput dikenal dengan nama yang berbeda-beda di setiap wilayah, seperti stepa di Eropa dan Asia, pampas di Amerika, veld di Afrika, dan down di Australia.

Ekosistem padang rumput identik dengan lahan yang seluruhnya ditumbuhi oleh rumput atau herba sebagai vegetasi utama.

Hal ini karena, curah hujan yang turun di padang rumput tidak cukup untuk menumbuhkan pohon, yaitu sekitar 15 –75 sentimeter per tahun.

Jadi, kondisi padang rumput tidak cukup kering untuk membentuk gurun, tetapi juga tidak cukup basah untuk membentuk hutan hujan tropis.  

Ciri-ciri ekosistem Padang rumput:

• Terletak di Wilyah Tropis Sampai Subtropis
• Berupa Lahan yang Luas 
• Mempunyai Tanaman Khas
• Habitat Beberapa Hewan 
• Mempunyai Cuaca yang Khas 

4. Gurun

Bioma gurun sering diidentikkan dengan kawasan padang pasir yang panas, gersang dan didominasi oleh batu dan pasir. Namun, kenyataan tersebut tidak seluruhnya benar, karena tidak semua padang pasir bersuhu panas.

Pada dasarnya bioma gurun adalah kawasan iklim kering yang ditandai rata-rata curah hujan tahunan jauh lebih kecil dibandingkan tingkat penguapan massa air ke atmosfer. Sehingga, sangat jarang ditemui sungai, sumur, dan mata air.



Letak bioma gurun secara astronomi, terdapat di belahan bumi sekitar 20o lintang utara (LU) dan 30o lintang selatan (LS).

Bioma gurun panas dan kering identik dengan padang pasir (gurun pasir), yaitu suatu wilayah di daerah iklim subtropik sampai sedang yang didominasi oleh hamparan pasir dengan kondisi vegetasi yang terbatas, suhu udara tinggi, curah hujan kurang dari 250 mm/tahun, dan intensitas panas Matahari yang tinggi.

Daerah gurun yang paling luas terpusat di daerah sekitar 20o LU, yaitu dimulai dari Pantai Atlantik di Afrika hingga ke Asia Tengah. Sepanjang daerah itu terdapat kompleks Gurun Sahara (Afrika Utara), Gurun Arab, dan Gurun Gobi (Asia Tengah) yang luasnya mencapai 10 juta km2.

Sementara itu, wilayah gurun pasir lainnya juga terdapat di Afrika Barat Daya (Kalahari dan Namib), Afrika Timur (Ogaden), Asia Barat (Karakum, Taklamakan, dan Iran), Asia Selatan (Thar), Australia (Gibson dan Simpson), Amerika Serikat bagian tengah dan barat (The Great American Desert, meliputi Arizona dan California), Meksiko bagian utara, dan Amerika Selatan (Atacama dan Patagonia).

Daerah gurun pasir mempunyai ciri-ciri khusus, antara lain tingkat evaporasi yang lebih tinggi daripada curah hujan dan air tanah yang cenderung asin. Penyebab air tanah menjadi asin karena larutan garam dari tanah tidak berpindah, baik melalui pencucian oleh air, maupun oleh drainase. Oleh karena itu, hanya tumbuhan yang mampu beradaptasi yang hidup di daerah tersebut.

Jenis vegetasi yang dapat tumbuh dan beradaptasi terhadap kondisi gurun pasir pada umumnya memiliki ciri-ciri daun yang kecil seperti duri, batang pohon relative tebal, dan akar yang panjang.

Melalui struktur tersebut tumbuhan dapat mengurangi penguapan dan mampu mengambil air dari tempat yang dalam, kemudian menyimpannya di dalam jaringan spons.

Contoh vegetasi yang hidup di daerah gurun adalah kaktus, semak-semak akasia, dan pohon-pohon tamar (kurma). Sementara hewan yang terdapat di daerah gurun antara lain belalang dan berbagai jenis hewan pengerat, contohnya hamster dan gerbil.

5. Hutan gugur

Bioma hutan gugur adalah bioma yang didominasi oleh tumbuhan berdaun lebar yang menggugurkan daunnya secara musiman.

Bioma hutan gugur ditemukan di tiga wilayah garis lintang tengah dengan iklim sedang, meluas ke daerah yang lebih gersang di sepanjang tepian sungai dan di sekitar badan air.

Ciri-ciri bioma hutan gugur
•Musim panas yang terik dan musim dingin yang dingin
• Curah hujan sedang
• Memiliki empat musim
• Banyak pepohonan berdaun lebar
• Musim panas yang terik dan musim dingin yang dingin

Bioma hutan gugur memiliki ciri-ciri musim panas yang terik (bersuhu tinggi) dan musim dingin yang dingin (bersuhu rendah).

bioma hutan gugur memiliki suhu harian rata-rata sekitar -30°C dan 30°C dengan rata-rata suhu tahunan sekitar 10°C.

6. Taiga

Bioma taiga disebut juga hutan boreal atau hutan salju. Adalah bioma yang tersusun atas satu spesies, seperti konifer, pinus, cemara, dan sejenisnya.

Adapun bioma adalah ekosistem besar berdasarkan iklim, yang di dalamnya terdiri dari flora dan fauna tertentu.

Di antara berbagai jenis bioma, taiga menjadi bioma terluas. Dikutip dari Encyclopedia Britannica, 17 persen daratan bumi merupakan jenis bioma ini.

Pohon di daerah taiga mempunyai daun berbentuk seperti jarum, yang bagian luarnya dilapisi zat lilin agar tahan terhadap kekeringan.

Contoh tumbuhan konifer di bioma taiga adalah alnus, betula, juniperus, dan spruce.

Persebaran bioma taiga umumnya terletak pada lintang 60º sampai 70º Lintang Utara (LU) atau Lintang Selatan (LS).

Wilayah yang termasuk kategori bioma taiga adalah bagian utara bumi, seperti Kanada, Rusia, Siberia, Alaska, Finlandia, Skandinavia, Siberia, dan beberapa negara di kawasan Asia Utara.

Berikut ciri-ciri bioma taiga:

• Terletak di kawasan subarktik, di mana musim dingin berlangsung cukup panjang, dan musim panas berlangsung sangat pendek, sekitar satu hingga tiga bulan
Curah hujannya sekitar 400 hingga 750 milimeter per tahun
• Perbedaan suhu musim panas dan dingin cukup tinggi. Suhu di bioma taiga bisa mencapai 90º Fahrenheit, bahkan lebih pada musim panas.
• Pertumbuhan tanaman terjadi pada musim panas dan berlangsung antara 3 sampai 6 bulan
• Tumbuhan akan tetap hijau sepanjang tahun, bahkan di musim dingin dengan suhu rendah sekalipun
• Jenis tumbuhan yang hidup cenderung sedikit dan spesifik, yaitu hanya terdiri dari dua hingga tiga jenis saja
• Flora khasnya adalah pohon berdaun jarum, misal konifer (pinus). Contoh flora khas lainnya adalah cemara dan albus
Fauna yang dapat hidup merupakan hewan berdarah dingin. Contohnya beruang, serigala, beruang hitam, rubah, rusa kutub, dan burung yang bermigrasi 
• Daerahnya berfungsi sebagai penghasil kayu untuk dimanfaatkan dalam pembuatan kertas.

7. Tundra

Tundra adalah bioma yang paling dingin. Bioma tundra dikenal dengan lanskapnya yang membeku, suhu yang sangat rendah, sedikit curah hujan, nutrisi yang buruk, dan musim tanam yang pendek. Meski demikian, ada beberapa fauna dan flora yang mampu beradaptasi dengan suhu dingin dan tumbuh dengan baik di bioma tundra.

Ciri-ciri bioma tundra: 

• Iklim yang sangat dingin 
• Keanekaragaman biotik rendah 
• Struktur vegetasi sederhana
• Keterbatasan drainase 
• Musim pertumbuhan dan reproduksi yang pendek 
• Energi dan nutrisi berupa bahan organik mati 
• Osilasi populasi besar

tundra Tundra dibagi menjadi dua jenis, yakni tundra Arktik dan tundra alpine.

Tundra Arktik terletak di belahan bumi utara, mengelilingi kutub utara, dan memanjang ke selatan hingga ke hutan konifer taiga. 

Tidak ada sistem akar yang dalam di vegetasi tundra Arktik, namun masih ada berbagai macam tanaman yang mampu menahan iklim dingin. Ada sekitar 1.700 jenis tumbuhan di kutub dan subarktik. Tumbuhan tersebut termasuk: Semak rendah, sedges, lumut rusa, lumut hati, dan rerumputan.

Selain flora, fauna di bioma tundra Arktik juga cukup beragam. 

Beberapa hewan yang ditemukan di bioma tundra Arktik adalah mamalia herbivora seperti lemming, kelinci kutub, dan tupai; mamalia karnivora seperti rubah kutub, serigala, dan beruang kutub; serta ikan cod, flatfish, salmon, dan trout.

Tundra alpine terletak di pegunungan di seluruh dunia, pada ketinggian di mana pohon tidak dapat tumbuh. 

Musim tanam di bioma tundra alpine adalah sekitar 180 hari dengan suhu malam hari di bawah titik beku. Berbeda dengan tundra Arktik, tanah di alpine memiliki drainase yang baik. 

Tumbuhan bioma tundra alpine sangat mirip dengan yang ada di kutub, seperti rumput tussock, pohon kerdil, semak berdaun kecil, dan semak belukar. Sementara itu, beberapa hewan yang hidup di tundra alpine dan dapat beradaptasi dengan baik adalah kambing gunung, domba, rusa, kumbang, dan kupu-kupu.

Rabu, 24 Juli 2024

Tingkat Keanekaragaman Hayati

Secara umum, keanekaragaman hayati dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu tingkat gen, tingkat individu atau spesies, dan tingkat ekosistem. Apa bedanya tingkatan-tingkatan tersebut?

Kerjakanlah tugas berikut:

1. Tulis 5 macam-macam pisang yang kamu ketahui: 

......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

Tulis perbedaan ciri-ciri dari 5 macam pisang tersebut:

......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

2. Amatilah gambar palem paleman berikut ini

pohon kelapa 

Pohon pinang

Pohon aren 

Pohon sawit

Jelaskan perbedaan dari ke empat jenis palem-paleman tersebut
......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

3. Amatilah gambar jenis ekistem alami dan ekosistem buatan berikut.

Ekosistem sungai

Ekosistem danau 

Kebun teh

Kebun mangga 

Tuliskan ciri-ciri biotik dan abiotik pada ekosistem tersebut 

......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................

Dari tugas yang dikerjakan tersebut bisa dijelaskan:

1. Keanekaragaman Hayati Tingkat Genetik

Keanekaragaman tingkat genetik terjadi karena adanya keanekaragaman susunan gen. Jadi, perangkat gen itulah yang menentukan ciri dan sifat yang dimiliki oleh suatu individu. Contohnya? Ya perbedaan tipe rambut tadi. Adanya orang yang berambut keriting, lurus, ikal, itu terjadi karena adanya keanekaragaman tingkat genetik.

Variasi pada bunga mawar (Rosa hybrida)

Salah satu contoh lainnya ada pada bunga mawar. Meski sama-sama bunga mawar dan mempunyai nama spesies Rosa hybrid, tetapi warna mahkota pada bunga mawar bisa berbeda. Hal ini karena susunan gen penyusun bunga mawar yang satu dengan bunga mawar yang lain berbeda.

Lalat buah (Drosophila melanogaster)

Contoh keanekaragaman hayati tingkat gen yang lain, juga terjadi pada lalat buah (Drosophila melanogaster). Kalau kita perhatikan dari gambar, meskipun sama-sama lalat buah, tapi mata lalat ini bisa berbeda, kan? Lalat yang satu berwarna merah, dan yang satunya berwarna putih. Ini pun menunjukkan bahwa adanya keanekaragaman genetik.

Sekarang, coba kamu pikir, kira-kira ada keanekaragaman genetik apa lagi yang ada di sekitarmu?

Perbedaan rasa pada setiap buah mangga juga termasuk ke dalam keanekaragaman genetik, lho.

2. Keanekaragaman Hayati Tingkat Individu/Spesies

Berbeda dengan keanekaragaman tingkat genetik, keanekaragaman tingkat individu/spesies ini menunjukkan adanya jumlah dan variasi dari jenis-jenis organisme. Lalu, kenapa bisa terjadi keanekaragaman tingkat individu/spesies?

Keanekaragaman ini bisa terjadi karena adanya pengaruh kandungan genetik dengan habitatnya.

Palem-paleman, contoh keanekaragaman tingkat individu

Contoh dari keanekaragaman individu/spesies ini ada pada Arecaceae atau palem-paleman. Kalau kita perhatikan secara sekilas, bentuk fisik tanaman ini mirip, kan? Padahal, semuanya merupakan jenis/individu yang berbeda.
Pohon aren, misalnya. Yang mempunyai nama latin Arenga pinnata dan Pinang yang nama latinnya Areca catechu. Selain itu, habitat pohon aren yang biasa tumbuh di pegunungan, mempunyai struktur daun yang jauh berbeda dengan pohon kelapa yang tumbuh di pantai.

Perbedaan habitat inilah yang menyebabkan setiap tanaman tadi mempunyai ciri khusus dari tiap spesiesnya.

3. Keanekaragaman Hayati Tingkat Ekosistem


Di atas keanekaragaman tingkat genetik dan individu, ada keanekaragaman tingkat ekosistem. Ini artinya, setiap ekosistem mempunyai keunikan dan ciri khasnya sendiri-sendiri. Keanekaragaman tingkat ekosistem menggambarkan jenis populasi organisme dalam suatu wilayah. Adanya keanekaragaman tingkat ekosistem ini ditunjukkan dengan adanya perbedaan faktor abiotik serta komposisi jenis populasi organismenya.


Nah, dari tiap-tiap ekosistem di atas, semuanya memiliki perbedaan baik jenis tanaman yang hidup di sana, hewan-hewan, serta lingkungan yang saling memengaruhinya.

Bagaimana? Sekarang sudah tidak bingung kan, apa itu keanekaragaman hayati, manfaat, dan pembagiannya mulai dari keanekaragaman tingkat gen, tingkat individu/spesies, dan keanekaragaman tingkat ekosistem.

Rabu, 17 Juli 2024

KEANEKARAGAMAN HAYATI

Tujuan Pembelajaran Keanekaragaman Hayati:

1. Menganalisis berbagai tingkat keanekaragaman makhluk hidup dan peranannya di lingkungan sekitar, beserta ancaman dan pelestariannya dalam bentuk tabel.

2. Melakukan penelitian observasi berbagai tingkat keanekaragaman makhluk hidup dan peranannya di lingkungan sekitar dengan membandingkan data keanekaragaman makhluk hidup dari berbagai wilayah di Indonesia dari sumber yang relevan.

3. Menganalisis data perbandingan hasil observasi berbagai tingkat keanekaragaman makhluk hidup (gen, jenis dan ekosistem) di lingkungan sekitar dalam bentuk laporan tertulis.

4. Menyajikan usulan upaya pelestarian keanekaragaman makhluk hidup dalam berbagai bentuk media presentasi.

Bagian-bagian materi keanekaragaman hayati:

1. Tingkat keanekaragaman hayati

2. Tipe ekosistem

3. Keanekaragaman hayati di indonesia

4. Menghilangnya keanekaragaman hayati.

5. Usaha pelestarian keanekaragaman hayati.

6. Klasifikasi makhluk hidup

Keanekaragaman hayati ialah keanekaragaman di dalam makhluk hidup dari semua sumber, termasuk diantaranya, daratan, lautan dan ekosistem perairan lain serta kompleks-kompleks ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragamannya; mencakup keanekaragaman di dalam jenis, antar jenis dan ekosistem.

Keanekaragaman hayati yang terdapat di tiap wilayah berbeda-beda. Bandingkan keanekaragaman hayati pada beberapa wilayah/tempat berikut:

Nama Tempat/Wilayah/Ekosistem                                                : ..............................
Daftar Nakhluk Hidup di tempat tersebut                                     : ..............................
Daftar yang bukan ternasuk makhluk hidup di tempat tersebut    : .............................
Nama Tempat/Wilayah/Ekosistem                                                : ..............................
Daftar Nakhluk Hidup di tempat tersebut                                     : ..............................
Daftar yang bukan ternasuk makhluk hidup di tempat tersebut    : .............................
Nama Tempat/Wilayah/Ekosistem                                                : ..............................
Daftar Nakhluk Hidup di tempat tersebut                                     : ..............................
Daftar yang bukan ternasuk makhluk hidup di tempat tersebut    : .............................
Nama Tempat/Wilayah/Ekosistem                                                : ..............................
Daftar Nakhluk Hidup di tempat tersebut                                     : ..............................
Daftar yang bukan ternasuk makhluk hidup di tempat tersebut    : .............................

Jelaskan kesimpulan dari hasil observasi kamu tentang ke empat tempat di atas:
.................................................................................................................................................................................
.................................................................................................................................................................................
.................................................................................................................................................................................


Minggu, 12 Mei 2024

Interaksi Antar-Komponen Ekosistem

Interaksi antar komponen ekosistem adalah interaksi yang terjadi antar biotik dengan biotik ataupun biotik dengan abiotik. Adanya interaksi ini menunjukkan hubungan yang saling mempengaruhi antara faktor biotik dan abiotik dalam suatu ekosistem. Suatu interaksi pun selalu terjadi di setiap tingkatan trofik organisme kehidupan. Bentuk interkasi antar komponen biotik bisa terjadi antara spesies yang sama ataupin spesies yang berbeda. Interaksi antara komponen abiotik dengan komponen biotik mengakibatkan terjadinya aliran energi dan daur biogeokimia. 

Dengan adanya interaksi antar komponen yang seimbang akan membawa ekosistem pada kondisi seimbang. Sebaliknya, bila interaksi antar komponen ekosistem tersebut tidak berjalan dengan baik, maka ekosistem akan menjadi rusak, bahkan hingga menyebabkan kepunahan komponen biotiknya.

Interaksi Antar-Spesies

Organisme tidak dapat hidup sendiri, melainkan harus berkelompok menempati suatu ruang dan saling berinteraksi, baik berisifat positif, negatif, netral atau kombinasinya. Interaksi yang terjadi antar spesies anggota populasi akan mempengaruhi kehidupan dan kecepatan pertumbuhan populasi. 

terdapat beberapa tipe interaksi antar spesies, yaitu netralisme, kompetisi (persaingan), komensalisme, amensalisme, parasitisme, predasi (pemangsaan), protokooperasi, dan mutualisme. 

1. Netralisme

Interaksi netral merupakan hubungan yang tidak saling mengganggu antar organisme dalam habitat yang sama, serta bersifat tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak. Contohnya, seperti interaksi yang terjadi antara capung dan sapi, ayam dan kucing.

Gb. 1 Hubungan netral antara kambing dan ayam

2. Kompetisi (Persaingan)

Kompetisi merupakan interaksi antar spesies yang terjadi apabila dua spesies memiliki kepentingan yang sama, sehingga menimbulkan persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Interaksi kompetisi pun dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

a. Kompetisi intraspesifik

Kompetisi intraspesifik merupakan interaksi kompetisi antar spesies yang dapat terjadi secara langsung dan tak langsung. Persaingan ini dilakukan dalam satu spesies yang sama. 

Dalam prosesnya, pada kompetisi langsung bisa menimbulkan perkelahian dalam merebutkan kebutuhan hidup. Sedangkan itu, pada kompetisi tak langsung akan terjadi perlombaan untuk memperoleh kebutuhan hidup. 

Kompetisi ini akan mengakibatkan adanya makhluk hidup yang memperoleh kebutuhan hidup lebih sedikit, bahkan hingga menyebabkan kematian, atau migrasi. Kematian dan migrasi makhluk hidup dalam suatu populasi akan mengurangi kepadatan populasi itu sendiri. Contohnya, seperti persaingan yang terjadi antara populasi kambing peternakan A dengan populasi kambing peternakan B di suatu padang rumput yang sama, dan kompetisi hewan jantan yang memperebutkan wilayah atau pasangannya.

b. Kompetisi interspesifik

Jenis kompetisi ini merupakan persaingan antar makhluk hidup yang berbeda spesies. Kompetisi interspesifik terjadi jika dua atau lebih populasi pada suatu wilayah memiliki kebutuhan hidup yang sama, sementara ketersediaan kebutuhan tersebut terbatas.

Kebutuhan hidup itu pun dapat berupa makanan, cahaya, air, atau ruang. Contoh kompetisi interspesifik adalah kompetisi beberapa jenis burung pemakan jenis serangga yang sama di suatu hutan.


Gb. 2 Kompetisi Intraspesifik antara sesama harimau

Gb. 3 Kompetisi interspesifik amtara singa dan hiena dalam memperebutkan mangsa

3. Komensalisme

Komensalisme merupakan simbiosis antara dua organisme berbeda dalam bentuk hidup bersama untuk berbagi sumber makanan. Di mana salah satu pihak akan diuntungkan, tapi pihak lainnya tidak diuntungkan maupun dirugikan. Contohnya, yaitu bunga anggrek dengan pohon yang ditumpanginya, dan ikan hiu dengan ikan remora.

Gb. 4 Komensalisme antara ikan hiu dan ikan remora

4. Amensalisme

Amensalisme yaitu interaksi antara dua spesies atau lebih yang berakibat salah satu pihak dirugikan, sedangkan pihak lainnya tidak terpengaruh oleh adanya asosiasi atau tidak berakibat apa-apa (tidak rugi dan tidak untung). Pada banya kasus, interaksi ini disebabkan oleh fenomena alelopati. 

Alelopati, merupakan interaksi antar populasi yang mana salah satunya dapat memproduksi senyawa biomolekul (disebut alelokimia) ke lingkungan, dan senyawa tersebut bisa menghambat perkembangan, serta pertumbuhan organisme yang menjadi populasi lain di sekitarnya. Contohnya, seperti interaksi antara akar dan tunas tanaman Lantana camara atau saliara yang dapat mengurangi perkecambahan gulma, serta lamtoro yang mampu mengurangi hasil panen gandum dan kunyit. 

Alelopati yang terjadi pada mikroorganisme disebut dengan anabiosa. Misalnya, interaksi antara jamur Penicillium sp. dengan bakteri. Di mana jamur Penicillium dapat menghasilkan antibiotika yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.


Gb. 5 Amensalisme, Nerium oleander menghasilkan racun oleandrin yang mematikan bagi manusia

5. Parasitisme

Parasitisme merupakan simbiosis dari dua organisme yang berbeda, dengan merugikan satu pihak yang menjadi pasangannya. Salah satu organisme akan hidup pada organisme lain, dan mengambil makanan dari inangnya, sehingga bersifat merugikan pihak yang menjadi inang. Contohnya, seperti benalu dengan pohon inang, dan nyamuk anopheles dengan manusia.

Gb. 6 Parasitisme, Nyamuk anopheles merupakan pembawa parasit Plasmodium yang menyebabkan penyakit malaria bagi manusia

6. Predasi (Pemangsaan)

Interaksi predasi merupakan hubungan yang ada antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini memiliki kaitan yang sangat erat dalam mempertahankan keseimbangan suatu ekosistem. 

Sebab, apabila tidak ada mangsa, maka predator tak bisa hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai pengontrol populasi yang menjadi mangsanya. Contohnya bisa dilihat pada singa dengan mangsanya, yaitu kijang, rusa, serta burung hantu dengan tikus.

Gb. 7 Predasi, ular memangsa tikus

7. Protokooperasi

Protokoperasi merupakan interaksi antara organisme yang saling menguntungkan, namun bukan merupakan keharusan karena apabila interaksi tidak terjadi, maka tidak akan memberikan pengaruh bagi kedua organisme (tidak rugi dan tidak untung). 

Contoh protokooperasi adalah interaksi antar burung kuntul dan binatang ternak seperti sapi, kerbau, dan zebra. Pada situasi ini, burung kuntul akan memakan parasit juga serangga yang berada pada tubuh binatang ternak. Sedangkan, binatang ternak akan diuntungkan karena tubuhnya menjadi bersih.

Gb. 8 Protokooperasi, kerbau dan burung kuntul

8. Mutualisme

Mutualisme merupakan simbiosis antara dua organisme berbeda yang saling menguntungkan satu sama lain. Salah satu pihak akan mendapat keuntungan dengan mendapat sumber makanan atau pertolongan untuk dijauhkan dari predatornya, dan pihak lainnya juga mendapatkan keuntungan serupa. Contohnya dapat dilihat pada bunga dan lebah, serta bakteri Rhizobium yang hidup pada bintil akar kacang-kacangan.

Gb. 9 Mutualisme, lebah dan bunga








Senin, 22 April 2024

Komponen Ekosistem

Komponen ekosistem merupakan bagian dari suatu ekosistem yang menyusun ekosistem ini sendiri sehingga terbentuk sebuah ekosistem. Komponen dalam ekosistem kemudian dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu komponen hidup dan komponen tak hidup. Selain itu komponen hidup dapat disebut juga sebagai komponen biotik, dan komponen tak hidup dapat disebut sebagai komponen abiotik. Setiap komponen memiliki anggota yang berbeda-beda pula.

Komponen Biotik

Biotik, memiliki arti “Hidup”. Komponen biotik pada suatu ekosistem adalah makhluk hidup itu sendiri, sebab ekosistem tak akan pernah terbentuk tanpa adanya makhluk hidup didalamya. Keberadaan makhluk hidup kemudian membentuk suatu rantai makanan dalam suatu ekosistem. Beberapa contoh dari komponen biotik yang ada lingkungan sekitar kita, antara lain:

  1. Organisme Autotrof atau Produsen, disebut sebagai produsen karena organisme ini mampu membuat makanannya sendiri, bahkan ia membuat makanan bagi organisme lain yang tinggal di ekosistem. Produsen kemudian akan membuat makanan dengan menyerap senyawa serta zat- zat anorganik yang akan diubah menjadi senyawa organik melalui suatu proses yang dinamakan sebagai fotosistensis.
  2. Organisme Heterotrof (Konsumen) memiliki sifat yang berbeda dengan organisme pertama. Organisme heterotrof ini memperoleh makanan dari organisme autotrof atau produsen dan akan memakan sesama organisme heterotrof lainnya. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa organisme heterotrof adalah organisme yang menggunakan bahan-bahan organik dari organisme lain yang digunakan sebagai sumber energi dan makanannya. Sebagai contoh adalah manusia dan hewan. Ketiganya nanti dibagi lagi berdasarkan makanannya menjadi Herbivora, Karnivora serta Omnivora. 
    Harimau merupakan konsumen sekunder
  3. Pengurai atau Dekomposer, merupakan Golongan terakhir dari komponen biotik dalam sebuah ekosistem. Pengurai atau dekomposer ini adalah organisme yang menguraikan sisa- sisa makhluk hidup (heterotrof atau autotrof) yang telah mati. Dengan kata lain, pengurai adalah organisme yang bekerja untuk merubah bahan bahan organik dari organisme yang telah mati menjadi senyawa anorganik melalui suatu proses yang dinamakan dekomposisi. Pengurai atau dekomposer akan menduduki jabatan penting dalam suatu rantai makanan di bumi, karena perannya paling akhir adalah kunci keberlangsungan rantai makanan. Beberapa contoh pengurai atau dekomposer yang ada di sekitar lingkungan tempat kita tinggal adalah ganggang, jamur, bakteri, cacing, dan lain sebagainya. 
    Rayap merupakan organisme detritivor
Komponen Abiotik

Komponen kedua dalam ekosistem adalah komponen abiotic atau komponen yang tak hidup. Dengan kata lain, komponen abiotik adalah komponen yang terdiri dari benda-benda bukan makhluk hidup tetapi ada di sekitar kita, dan ikut mempengaruhi kelangsungan hidup. Beberapa jenis komponen abiotik yaitu  suhu, sinar matahari, air, angin, udara, kelembapan udara, dan banyak lagi benda mati yang ikut berperan dalam ekosistem. Berikut beberapa diantaranya:
  1. Suhu: Suatu proses biologis yang dipengaruhi oleh perubahan pada suhu, contohnya mamalia & burung sebagai makhluk hidup yang dapat mengatur sendiri suhu tubuhnya.
  2. Air: Sebuah ketersediaan air dapat mempengaruhi distribusinya suatu organisme Contohnya Organisme dapat beradaptasi dan bertahan hidup dengan memanfaatkan ketersediaan air yang berada di padang pasir.
  3. Garam: Konsentrat pada garam akan mempengaruhi keseimbangan air dalam organisme melalui Osmosis. Contohnya pada Beberapa organisme Terestrial yang dapat beradaptasi pada lingkungan dan kandungan garamnya yang cukup tinggi.
  4. Sinar Matahari: Intensitas & Kualitas pada sebuah Cahaya Matahari akan mempengaruhi proses fotosintesis, karena air mampu menyerap cahaya sehingga proses fotosintesis dapat terjadi di sekitar permukaan matahari.
  5. Udara: merupakan sekumpulan gas pembentuk lapisan atmosfer yang menyelimuti bumi. Udara bersih dan kering di atmosfer mengandung gas dengan komposisi permanen, yaitu: 78,09% Nitrogen (N2), 21,94% Oksigen (O2), 0,032% Karbon dioksida (CO2), dan gas lain (Ne, He, Kr, Xe, H2, CH4, dan N2O). Selain itu, udara juga mengandung gas yang jumlahnya bisa berubah-ubah, yaitu uap air (H2O), ozon (O3), Sulfur dioksida (SO2), dan Nitrogen dioksida (NO2). Udara berfungsi untuk menunjang kehidupan penghuni ekosistem. Contohnya gas O2 untuk respirasi makhluk hidupdan gas CO2 untuk proses fotosintesis tumbuhan. 
  6. Tanah: Tanah terbentuk karena proses destruktif (Pelapukan batuan dan pembusukan senyawa organik) dan sintesis (pembentukan mineral). Komponen tanah yang utama yaitu bahan mineral, bahan organik, air dan udara. Tumbuhan mengambil air dan garam-garam mineral dari dalam tanah. Sementara, manusia menggunakan tanah untuk keperluan lahan pemukiman, pertanian, peternakan, perkantoran perindustrian, pertambangan dan kegiatan transportasi. 
  7. Kelembapan: Kelembapan di suatu ekosistem dipengaruhi oleh intensitas sinar matahari, angin, dan curah hujan. Kelembapan sangat mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan. Daerah dengan tingkat kelembapan berbeda akan menghasilkan ekosistem dengan komposisi tumbuhan yang berbeda. 
  8. Derajat keasaman (pH): Keadaan pH tanah berpengaruh terhadap kehidupan tumbuhan. Tumbuhan akan tumbuh dengan baik pada pH optimum, yaitu berkisar 5,8 - 7,2. Nilai pH tanah dipengaruhi oleh curah hujan, penggunaan pupuk, aktivitas akar tanaman, dan penguraian mineral tanah.
  9. Topografi: Adalah keadaan naik turun atau tinggi rendahnya permukaan bumi. Topografi mempengaruhi keadaan iklim yang menyangkut suhu dan kelembapan. Topografi menentukan keanekaragaman hayati dan penyebaran suatu organisme. 

Skema siklus materi dan arus energi dalam ekosistem

Komponen Ekosistem dan Interaksinya - Pendahuluan



Apa yang harus dicapai siswa pada pembelajaran ini? Yaitu:
  1. Siswa dapat menganalisis peranan-peranan komponen-komponen ekosistem dalam aliran energi dan daur biogeokimia.
  2. Siswa dapat menjelaskan interkasi antara komponen biotik dan komponen biotik lainnya dalam ekosistem. 
  3. siswa dapat membedakan tipe piramida ekologi.
  4. siswa dapat membuat media charta diagram rantai makanan dan jaring-jaring makanan.
  5. siswa dapat membuat media charta daur biogeokimia (Siklus Nitrogen, siklus Karbon, siklus Sulfur, dan siklus Fosfor) dari kajian literatur. 

Mengamati Komponen ekosistem


Saat kita berjalan-jalan di areal pesawahan kita merasakan udara yang segar. Apa saja yang bisa kita lihat ketika kita berjalan-jalan di sawah? Ada burung, katak, ikan-ikan kecil, keong emas, tikus, ular, dan hewan-hewan lainnya. 

Perhatikan gambaran ekosistem sawah di bawah ini:


Coba apa saja yang bisa ditemukan dari ekosistem sawah tersebut? Banyak kan.

Ekosistem merupakan suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem sebagai suatu tatanan kesatuan yang secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup dan saling mempengaruhi. Ekosistem sebagai penggabungan dari setiap unit biosistem. Melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energinya menuju pada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi siklus materi antara organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua energy, dalam ekosistem, organisme pada  komunitas berkembang bersama-sama dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme kemudian beradaptasi lagi dengan lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga memengaruhi lingkungan fisik untuk kelangsungan hidupnya.