Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S Ali Imron ayat 31).
Katakanlah (Muhammad), "Taatilah Allah dan Rosul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir." (Q.S Ali Imron ayat 32)
Mahabah adalah pangkal dari kesempurnaan ibadah seorang hamba. Allah menjadikan ketaatan kepada Rosul sebagai syarat cinta kepada-Nya. Tidak adanya kecintaan kepada Rosul adalah bukti tidak cinta kepada-Nya. Sulit diterima jika hanya mengaku cinta kepada salah satunya saja. Cinta kepada Allah bisa diwujudkan dengan taat kepada Rosul sampai keduanya lebih dicintai dibandingkan yang lain. Dengan begitu, dia akan merasakan manisnya iman.
Rosulullah Muhammad bersabda :
"Ada tiga hal yang jika ketiganya ada dalam dirinya, dia akan merasakan manisnya iman, yaitu orang yang dalam dirinya Allah dan Rosul-Nya lebih dicintai dari selain keduanya" (H.R Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Anas Bin Malik R.A)
Intinya dengan cara apa kita mencintai Allah? dengan cara taat kepada Allah dan Rosul-Nya. Jika kita sudah merasakan manisnya iman, itu adalah tanda bahwa kita sudah berhasil mencintai Allah dan Rosul-Nya.
Wallahu a'lam bi showab
Ar-Royan
Sekedar berbagi pengalaman hidup, yang mungkin menjadi inspirasi buat pembaca maupun masukan umpan balik kepada saya.
Senin, 01 September 2014
Senin, 21 April 2014
Cinta Ibu
Seorang ibu mendekap anaknya yang
durhaka saat sekarat
airmatanya menetes-netes di wajah yang
gelap dan pucat
Anaknya yang sejak di rahim diharap-
harapkan menjadi cahaya
setidaknya dalam dirinya
dan berkata:
Anakku jangan risaukan dosa-
dosamu kepadaku
sebutlah namaNya, sebutlah namaNya.
Dari mulut si anak yang gelepotan lumpur
dan darah
terdengar desis mirip upaya sia-sia
sebelum semuanya terpaku
kaku.
Oleh: KH. Musthofa Bisri
durhaka saat sekarat
airmatanya menetes-netes di wajah yang
gelap dan pucat
Anaknya yang sejak di rahim diharap-
harapkan menjadi cahaya
setidaknya dalam dirinya
dan berkata:
Anakku jangan risaukan dosa-
dosamu kepadaku
sebutlah namaNya, sebutlah namaNya.
Dari mulut si anak yang gelepotan lumpur
dan darah
terdengar desis mirip upaya sia-sia
sebelum semuanya terpaku
kaku.
Oleh: KH. Musthofa Bisri
Nazar Ibu Di Karbala
Pantulan mentari
senja dari kubah keemasan
mesjid dan makam sang cucu nabi
makin melembut
pada genangan
airmata ibu tua
bergulir-gulir
berkilat-kilat
seolah dijaga pelupuk
agar tak jatuh
indah warnanya
menghibur bocah berkaki satu
dalam gendongannya
tapi jatuh juga akhirnya
manik-manik bening berkilauan
menitik pecah
pada pipi manis kemerahan
puteranya
"Ibu menangis ya, kenapa?"
meski kehilangan satu kaki
bukankah ananda selamat kini
seperti yang ibu pinta?"
"Airmata bahagia, anakku
kerna permohonan kita dikabulkan
kita ziarah kemari hari ini
memenuhi nazar ibumu."
Cahaya lembut masih memantul-mantul
dari kedua matanya
ketika sang ibu tiba-tiba brenti
berdiri tegak di pintu makam
menggumamkan salam:
"Assalamu 'alaika ya sibtha rasulillah
salam bagimu, wahai cucu rasul
salam bagimu, wahai permata zahra."
Lalu dengan permatanya sendiri
dalam gendongannya
hati-hati maju selangkah-selangkah
menyibak para peziarah
yang begitu meriah
Disentuhnya dinding makam seperti tak sengaja
dan pelan-pelan dihadapkannya wajahnya ke kiblat
membisik munajat:
"Terimakasih, Tuhanku
dalam galau perang yang tak menentu
engkau hanya mengujiku
sebatas ketahananku
engkau hanya mengambil suami
gubuk kami
dan sebelah kaki
anakku
tak seberapa
dibanding cobamu
terhadap cucu rasulmu ini
engkau masih menjaga
kejernihan pikiran
dan kebeningan hati
Tuhan,
kalau aku boleh meminta ganti
gantilah suami, gubuk, dan kaki anakku
dengan kepasrahan yang utuh
dan semangat yang penuh
untuk terus melangkah
pada jalan lurusmu
dan sadarkanlah manusia
agar tak terus menumpahkan darah
mereka sendiri sia-sia
Tuhan,
inilah nazarku
terimalah." [Karbala, 1409 ]
Oleh: KH. Musthofa Bisri
senja dari kubah keemasan
mesjid dan makam sang cucu nabi
makin melembut
pada genangan
airmata ibu tua
bergulir-gulir
berkilat-kilat
seolah dijaga pelupuk
agar tak jatuh
indah warnanya
menghibur bocah berkaki satu
dalam gendongannya
tapi jatuh juga akhirnya
manik-manik bening berkilauan
menitik pecah
pada pipi manis kemerahan
puteranya
"Ibu menangis ya, kenapa?"
meski kehilangan satu kaki
bukankah ananda selamat kini
seperti yang ibu pinta?"
"Airmata bahagia, anakku
kerna permohonan kita dikabulkan
kita ziarah kemari hari ini
memenuhi nazar ibumu."
Cahaya lembut masih memantul-mantul
dari kedua matanya
ketika sang ibu tiba-tiba brenti
berdiri tegak di pintu makam
menggumamkan salam:
"Assalamu 'alaika ya sibtha rasulillah
salam bagimu, wahai cucu rasul
salam bagimu, wahai permata zahra."
Lalu dengan permatanya sendiri
dalam gendongannya
hati-hati maju selangkah-selangkah
menyibak para peziarah
yang begitu meriah
Disentuhnya dinding makam seperti tak sengaja
dan pelan-pelan dihadapkannya wajahnya ke kiblat
membisik munajat:
"Terimakasih, Tuhanku
dalam galau perang yang tak menentu
engkau hanya mengujiku
sebatas ketahananku
engkau hanya mengambil suami
gubuk kami
dan sebelah kaki
anakku
tak seberapa
dibanding cobamu
terhadap cucu rasulmu ini
engkau masih menjaga
kejernihan pikiran
dan kebeningan hati
Tuhan,
kalau aku boleh meminta ganti
gantilah suami, gubuk, dan kaki anakku
dengan kepasrahan yang utuh
dan semangat yang penuh
untuk terus melangkah
pada jalan lurusmu
dan sadarkanlah manusia
agar tak terus menumpahkan darah
mereka sendiri sia-sia
Tuhan,
inilah nazarku
terimalah." [Karbala, 1409 ]
Oleh: KH. Musthofa Bisri
Ibu
Ibu
Kaulah gua teduh
tempatku bertapa bersamamu
Sekian lama
Kaulah kawah
dari mana aku meluncur dengan perkasa
Kaulah bumi
yang tergelar lembut bagiku
melepas lelah dan nestapa
gunung yang menjaga mimpiku
siang dan malam
mata air yang tak brenti mengalir
membasahi dahagaku
telaga tempatku bermain
berenang dan menyelam
Kaulah gua teduh
tempatku bertapa bersamamu
Sekian lama
Kaulah kawah
dari mana aku meluncur dengan perkasa
Kaulah bumi
yang tergelar lembut bagiku
melepas lelah dan nestapa
gunung yang menjaga mimpiku
siang dan malam
mata air yang tak brenti mengalir
membasahi dahagaku
telaga tempatku bermain
berenang dan menyelam
Kaulah, ibu, laut dan langit
yang menjaga lurus horisonku
Kaulah, ibu, mentari dan rembulan
yang mengawal perjalananku
mencari jejak sorga
di telapak kakimu
(Tuhan,
aku bersaksi
ibuku telah melaksanakan amantMu
menyampaikan kasihsayangMu
maka kasihilah ibuku
seperti Kau mengasihi
kekasih-kekasihMu
Amin).
[1414]
yang menjaga lurus horisonku
Kaulah, ibu, mentari dan rembulan
yang mengawal perjalananku
mencari jejak sorga
di telapak kakimu
(Tuhan,
aku bersaksi
ibuku telah melaksanakan amantMu
menyampaikan kasihsayangMu
maka kasihilah ibuku
seperti Kau mengasihi
kekasih-kekasihMu
Amin).
[1414]
Oleh; KH. Musthofa Bisri
Resah Laut
Dari kaki langit
Ombaknya menyeret karpet biru
Lautnya
Ombaknya menyeret karpet biru
Lautnya
Menepi setiap kali
Membentur tebing terjal
Terpental
Datang lagi
Membentur lagi
Membentur tebing terjal
Terpental
Datang lagi
Membentur lagi
Deru geramnya semakin sengit
Langit membiarkannya
Jengkel sendiri
Langit membiarkannya
Jengkel sendiri
O, laut yang geram
Berhentilah menularkan dendam
Dinding-dinding dadaku
Tak tahan lagi
Berhentilah menularkan dendam
Dinding-dinding dadaku
Tak tahan lagi
Oleh: KH. Musthafa Bisri
Negeri Teka-Teki
Jangan tanya, tebak saja
Jangan tanya apa
Jangan tanya siapa
Jangan tanya mengapa
Tebak saja
Jangan tanya apa yang terjadi
Apalagi apa yang ada dibalik kejadian
Karena disini yang ada memang
Hanya kotak-kotak teka-teki silang
Dan daftar pertanyaan-pertanyaan
Jangan tanya mengapa
Yang disana dimanjakan
Yang disini dihinakan, tebak saja
Jangan tanya siapa
Membunuh buruh dan wartawan
Siapa merenggut nyawa yang dimuliakan Tuhan
Jangan tanya mengapa, tebak saja
Jangan tanya mengapa
Yang disini selalu dibenarkan
Yang disana selalu disalahkan, tebak saja
Jangan tanya siapa
Membakar hutan dan emosi rakyat
Siapa melindungi penjahat keparat
Jangan tanya mengapa, tebak saja
Jangan tanya mengapa
Setiap kali terjadi kekeliruan
Pertanggungjawabannya tak karuan
Tebak saja
Jangan tanya siapa
Beternak kambing hitam
Untuk setiap kali dikorbankan, tebak saja
Jangan tanya siapa
Membungkam kebenaran
Dan menyembunyikan fakta
Siapa menyuburkan kemunafikan dan dusta
Jangan tanya mengapa, tebak saja
Jangan tanya siapa
Jangan tanya mengapa
Jangan tanya apa-apa
Tebak saja
Rembang, Oktober 1997
Oleh: <i>KH.Musthofa Bisri</i>
Perkenankanlah Aku Mencintaimu
Perkenankanlah aku mencintaimu
seperti ini
Tanpa kekecewaan yang berarti
Harapan-harapan yang setiap kali
dikecewakan kenyataan
Biarlah dibayar oleh harapan-harapan
baru yang menjanjikan
Perkenankanlah aku mencintaimu
semampuku
Menyebut-nyebut namamu
dalam kesendirian pun lumayan
Berdiri di depan pintumu tanpa harapan
kau membukakannya pun terasa nyaman
Sekali-kali membayangkan kau memperhatikanku
pun cukup memuaskan
Perkenankanlah aku mencintaimu sebisaku
2000
Langganan:
Postingan (Atom)