Senin, 01 September 2014

Cinta Kepada Allah

Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S Ali Imron ayat 31).

Katakanlah (Muhammad), "Taatilah Allah dan Rosul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir." (Q.S Ali Imron ayat 32)

Mahabah adalah pangkal dari kesempurnaan ibadah seorang hamba. Allah menjadikan ketaatan kepada Rosul sebagai syarat cinta kepada-Nya. Tidak adanya kecintaan kepada Rosul adalah bukti tidak cinta kepada-Nya. Sulit diterima jika hanya mengaku cinta kepada salah satunya saja. Cinta kepada Allah bisa diwujudkan dengan taat kepada Rosul sampai keduanya lebih dicintai dibandingkan yang lain. Dengan begitu, dia akan merasakan manisnya iman.

Rosulullah Muhammad bersabda :

"Ada tiga hal yang jika ketiganya ada dalam dirinya, dia akan merasakan manisnya iman, yaitu orang yang dalam dirinya Allah dan Rosul-Nya lebih dicintai dari selain keduanya" (H.R Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Anas Bin Malik R.A)

Intinya dengan cara apa kita mencintai Allah? dengan cara taat kepada Allah dan Rosul-Nya. Jika kita sudah merasakan manisnya iman, itu adalah tanda bahwa kita sudah berhasil mencintai Allah dan Rosul-Nya.

Wallahu a'lam bi showab

Ar-Royan

Senin, 21 April 2014

Cinta Ibu

Seorang ibu mendekap anaknya yang
durhaka saat sekarat
airmatanya menetes-netes di wajah yang
gelap dan pucat

Anaknya yang sejak di rahim diharap-
harapkan menjadi cahaya
setidaknya dalam dirinya
dan berkata: 

Anakku jangan risaukan dosa-
dosamu kepadaku
sebutlah namaNya, sebutlah namaNya.

Dari mulut si anak yang gelepotan lumpur
dan darah
terdengar desis mirip upaya sia-sia
sebelum semuanya terpaku
kaku. 

Oleh: KH. Musthofa Bisri

Nazar Ibu Di Karbala

Pantulan mentari
senja dari kubah keemasan
mesjid dan makam sang cucu nabi
makin melembut
pada genangan
airmata ibu tua
bergulir-gulir
berkilat-kilat
seolah dijaga pelupuk
agar tak jatuh
indah warnanya
menghibur bocah berkaki satu
dalam gendongannya
tapi jatuh juga akhirnya
manik-manik bening berkilauan
menitik pecah
pada pipi manis kemerahan
puteranya

"Ibu menangis ya, kenapa?"
meski kehilangan satu kaki
bukankah ananda selamat kini
seperti yang ibu pinta?"

"Airmata bahagia, anakku
kerna permohonan kita dikabulkan
kita ziarah kemari hari ini
memenuhi nazar ibumu."

Cahaya lembut masih memantul-mantul
dari kedua matanya
ketika sang ibu tiba-tiba brenti
berdiri tegak di pintu makam
menggumamkan salam:

"Assalamu 'alaika ya sibtha rasulillah
salam bagimu, wahai cucu rasul
salam bagimu, wahai permata zahra."

Lalu dengan permatanya sendiri
dalam gendongannya
hati-hati maju selangkah-selangkah
menyibak para peziarah
yang begitu meriah

Disentuhnya dinding makam seperti tak sengaja
dan pelan-pelan dihadapkannya wajahnya ke kiblat
membisik munajat:

"Terimakasih, Tuhanku
dalam galau perang yang tak menentu
engkau hanya mengujiku
sebatas ketahananku
engkau hanya mengambil suami
gubuk kami
dan sebelah kaki
anakku
tak seberapa
dibanding cobamu
terhadap cucu rasulmu ini
engkau masih menjaga
kejernihan pikiran
dan kebeningan hati

Tuhan,
kalau aku boleh meminta ganti
gantilah suami, gubuk, dan kaki anakku
dengan kepasrahan yang utuh
dan semangat yang penuh
untuk terus melangkah
pada jalan lurusmu
dan sadarkanlah manusia
agar tak terus menumpahkan darah
mereka sendiri sia-sia

Tuhan,
inilah nazarku
terimalah." [Karbala, 1409 ]

Oleh: KH. Musthofa Bisri

Ibu

Ibu
Kaulah gua teduh
tempatku bertapa bersamamu
Sekian lama
Kaulah kawah
dari mana aku meluncur dengan perkasa
Kaulah bumi
yang tergelar lembut bagiku
melepas lelah dan nestapa
gunung yang menjaga mimpiku
siang dan malam
mata air yang tak brenti mengalir
membasahi dahagaku
telaga tempatku bermain
berenang dan menyelam
Kaulah, ibu, laut dan langit
yang menjaga lurus horisonku
Kaulah, ibu, mentari dan rembulan
yang mengawal perjalananku
mencari jejak sorga
di telapak kakimu

(Tuhan,
aku bersaksi
ibuku telah melaksanakan amantMu
menyampaikan kasihsayangMu
maka kasihilah ibuku
seperti Kau mengasihi
kekasih-kekasihMu
Amin).
[1414]
Oleh; KH. Musthofa Bisri

Resah Laut

Dari kaki langit
Ombaknya menyeret karpet biru
Lautnya
Menepi setiap kali
Membentur tebing terjal
Terpental
Datang lagi
Membentur lagi
Deru geramnya semakin sengit
Langit membiarkannya
Jengkel sendiri
O, laut yang geram
Berhentilah menularkan dendam
Dinding-dinding dadaku
Tak tahan lagi

Oleh: KH. Musthafa Bisri

Negeri Teka-Teki

Jangan tanya, tebak saja 
Jangan tanya apa 
Jangan tanya siapa 
Jangan tanya mengapa 
Tebak saja 

Jangan tanya apa yang terjadi 
Apalagi apa yang ada dibalik kejadian 
Karena disini yang ada memang 
Hanya kotak-kotak teka-teki silang 
Dan daftar pertanyaan-pertanyaan 

Jangan tanya mengapa 
Yang disana dimanjakan 
Yang disini dihinakan, tebak saja 

Jangan tanya siapa 
Membunuh buruh dan wartawan 
Siapa merenggut nyawa yang dimuliakan Tuhan 
Jangan tanya mengapa, tebak saja 

Jangan tanya mengapa 
Yang disini selalu dibenarkan 
Yang disana selalu disalahkan, tebak saja 

Jangan tanya siapa 
Membakar hutan dan emosi rakyat 
Siapa melindungi penjahat keparat 
Jangan tanya mengapa, tebak saja
 
Jangan tanya mengapa 
Setiap kali terjadi kekeliruan 
Pertanggungjawabannya tak karuan 
Tebak saja 

Jangan tanya siapa 
Beternak kambing hitam 
Untuk setiap kali dikorbankan, tebak saja 

Jangan tanya siapa 
Membungkam kebenaran 
Dan menyembunyikan fakta 
Siapa menyuburkan kemunafikan dan dusta 
Jangan tanya mengapa, tebak saja 

Jangan tanya siapa 
Jangan tanya mengapa 
Jangan tanya apa-apa 
Tebak saja 

Rembang, Oktober 1997

Oleh: <i>KH.Musthofa Bisri</i>

Perkenankanlah Aku Mencintaimu

Perkenankanlah aku mencintaimu 
seperti ini
Tanpa kekecewaan yang berarti

Harapan-harapan yang setiap kali
dikecewakan kenyataan
Biarlah dibayar oleh harapan-harapan 
baru yang menjanjikan

Perkenankanlah aku mencintaimu
semampuku
Menyebut-nyebut namamu
dalam kesendirian pun lumayan

Berdiri di depan pintumu tanpa harapan
kau membukakannya pun terasa nyaman
Sekali-kali membayangkan kau memperhatikanku
pun cukup memuaskan

Perkenankanlah aku mencintaimu sebisaku

2000
Oleh: KH. A. Musthofa Bisri