Senin, 12 Oktober 2020

IKATAN KIMIA - BAGIAN 1 : ATURAN OKTET DAN LAMBANG LEWIS

ATURAN OKTET

Unsur-unsur yang sudah diketahui atau ditemukan, memiliki perbedaan kereaktifan di antara unsur-unsur tersebut.

Kereaktifan berarti unsur ada yang memiliki sifat reaktif (Mudah bereaksi dengan membentuk ikatan dengan atom unsur yang lainnya) dan tidak reaktif (Sulit atau bahkan tidak bisa membentuk ikatan dengan atom unsur yang lainnya.

Contoh Unsur yang cukup reaktif adalah Besi, sedangkan unsur yang tergolong stabil (tidak reaktif adalah emas). Perbedaan kereaktifan antara emas dan besi bisa kita amati dalam kehidupan sehari-hari. Besi mudah sekali berkarat (korosi) kita besi berkarat akan rapuh dan hancur, sedangkan emas karena tidak reaktif emas tidak mengalami korosi rapuh dan hancur.

Unsur-unsur yang paling tidak reaktif adalah unsur-unsu dari golongan Gas Mulia (VIIIA) yaitu Helium, Neon, Argon, Krypton, Xenon, dan Radon. Tidak satupun senyawa yang ditemukan secara alami yang mengandung atom-atom dari golongan gas mulia (VIIIA). Itulah sebabnya gas Helium digunakan dalam balon udara, karena aman (Tidak akan terbakar dan meledak).

Dari penjelasan di atas akan muncul pertanyaan : Mengapa unsur dari golongan gas mulia (VIIIA) bersifat stabil (tidak reaktif) sedangkan unsur lainnya bersifat reaktif?

Untuk menjawab pertanyaan di atas 2 orang ilmuan Kimia yaitu G. N. Lewis dan W. Kossel mengaitkan kestabilan gas mulia dengan konfigurasi elektronnya. Menurut mereka gas mulia bersifat stabil karena memiliki konfiguasi elektron penuh pada kulit valensinya (Kulit Valensi = Kulit terluar pada suatu atom) yaitu konfigurasi Oktet  (mempunyai 8 elektron pada kulit terluar), kecuali Helium (He) yang mempunyai Konfigurasi Duplet (mempunyai 2 elektron pada kulit terluar) karena atom He hanya mempunyai 1 kulit yaitu kulit K dan 2 elektron.

Unsur-unsur lain untuk mencapai kestabilan (mencapai konfigurasi oktet) seperti unsur-unsur gas mulia dengan membentuk ikatan kimia dengan unsur-unsur yang lainnya.

Perhatikan tabel konfigurasi elektron unsur-unsur gas mulia di bawah ini.

Unsur

Nomor Atom (z)

Kulit Atom

K

L

M

N

O

P

Helium (He)

2

2

 

 

 

 

 

Neon (Ne)

10

2

8

 

 

 

 

Argon (Ar)

18

2

8

8

 

 

 

Kripton (Kr)

36

2

8

18

8

 

 

Xenon (Xe)

54

2

8

18

18

8

 

Radon (Rn)

86

2

8

18

32

18

8

Kcenderungan unsur-unsur menjadikan konfigurasi elektronnya sama seperti gas mulia terdekat (Nomor atomnya) dikenal dengan Aturan Oktet. Lebih jelas mari kita bandingkan konfigurasi elektron Flourin (F), Natrium (Na), dan Neon (Ne) berikut.

9F       : 2      7

10Ne    : 2      8

11Na    : 2      8        1

Sesuai dengan aturan okter Flourin dan Natrium akan menyesuaikan konfigurasi elektronnya sama seperti gas mulia dengan nomor atom terdekat yaitu Neon. Berarti:

9F       : 2      7 → agar sama seperti Neon berarti memerlukan tambahan 1 elektron.

11Na    : 2      8        1 → agar sama seperti Neon berarti harus melepaskan 1 elektron.

Ketika suatu atom unsur melepaskan atau menyerap elektron dari atom unsur lain, maka atom tersebut berubah menjadi ion yang memiliki muatan.

Perhatikan gambar perubahan atom Flourin menjadi ion flourida dan perubahan atom Natrium menjadi ion Natrium di bawah ini.

Pemenuhan konfigurasi oktet terjadi ketika unsur-unsur bereaksi membentuk senyawa. Misalnya reaksi yang terjadi antara atom Flourin dan Natrium . Perhatikan gambar di bawah ini.

Atom Natrium melepaskan 1 elektronnya dan terbentuk ion Na+, elektron yang dilepaskan Natrium diserap oleh atom Flourin dan terbentuk ion F-.

Ion Natrium (Na+) kemudian terjadi tarik menarik dengan ion flourida (F-) membentuk senyawa, yaitu Natrium flourida (NaF). Dengan kata lain, atom Natrium dengan atom Flourin membentuk suatu ikatan kimia.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur yang bersifat reaktif untuk mencapai keadaan yang lebih stabil (konfigurasi elektron golongan gas mulia) dengan membentuk suatu ikatan kimia.

LAMBANG LEWIS

Lambang Lewis dibuat untuk menyederhanakan konfigurasi elektron atom-atom yang membentuk suatu ikatan kimia. Pembentukan ikatan kimia menyangkut perubahan pada konfigurasi elektron, khususnya pada kulit valensi. Oleh karena itu, untuk penyederhanaan atom-atom cukup digambarkan dengan elektron valensinya.

Lambang Lewis bisa berupa dot (.) atau cross (x). Perhatikan beberapa contoh lambang lewis pada pada beberapa unsur di bawah ini

Lambang Lewis unsur gas mulia menunjukkan 8 elektron valensi yang terbagi dalam 4 pasangan. Lambang lewis dari unsur golongan lain menunjukkan adanya elektron tungga (elektron yang belum berpasangan).

Perhatikan gambar di bawah ini, yaitu reaksi antara Natrium dan Flourin yang digambarkan dengan menggunakan lambang lewis.


Sumber : Buku Kimia Airlangga SMK Teknologi Rekayasa

IKATAN KIMIA - PENDAHULUAN

Kalian pasti sudah mengetahui air. Air termasuk salah satu jenis materi yang perannya sangat penting untuk kehidupan.

Misalnya dalam kehidupan kita sehari-hari, air digunakan untuk minum, mencuci, mandi, memasak makanan.

Bahkan dalam tubuh kita air sangat berperan penting dalam menjaga DNA dari kerusakan, mengantarkan nutrisi ke seluruh tubuh, dan menjaga keseimbangan suhu tubuh.

Air adalah suatu materi yang tergolong senyawa yang memiliki rumus kimia H2O. Seperti yang sudah kita ketahui H merupakan lambang atom untuk Unsur Hidrogen dan O merupakan lambang atom untuk unsur Oksigen.

H = Hidrogen, angka 2 setelah lambang atom H merupakan angka indeks yang menyatakan jumlah atom H dalam air berjumlah 2

O = Oksigen, tidak memiliki angka seperti atom H dalam rumus kimia air (H2O). Artinya jumlah atom O dalam air berjumlah 1. Angka indeks 1 dalam penulisan rumus kimia tidak perlu ditulis.

Pernahkah kalian membayangkan bagaimana Oksigen berikatan dengan Hidrogen membentuk air? Ikatan tersebut membawa peran penting bagi kehidupan.

Mari kita perhatikan contoh jenis senyawa yang lainnya, yaitu Etanol. Etanol jika diperhatikan memiliki bentuk fisik yang sama seperti air, yaitu berwujud cair dan bening. Akan tetapi atom-atom yang menyusun Air dan Etanol berbeda, etanol terdiri dari atom-atom Karbon, Hidrogen dan Oksigen yang memiliki rumus kimia C2H5OH.

Coba kita hitung jumlah atom-atom penyusunnya dari rumus kimia etanol (C2H5OH).

C2 = berarti jumlah atom C (Karbon) berjumlah 2

H5 = Berarti jumlah atom H (Hidrogen) berjumlah 5

O = berarti jumlah atom O (Oksigen) berjumlah 1

H = berarti jumlah atom H (Hidrogen) berjumlah 1, jadi total atom Hidrogen 5 + 1 = 6

Walaupun antara air dan etanol memiliki bentuk fisik yang serupa, keduanya memiliki perbedaan sifat. Air jika disulut api, air tidak akan terbakar. Sedangkan etanol merupakan zat yang sangat mudah terbakar. Dari sini akan muncul pertanyaan, bagaimana unsur-unsur ini dapat berikatan membentuk senyawa? Bagaimana unsur-unsur tersebut dapat membawa sifa-sifat tertentu padaa senyawa yang dibentuknya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas akan dijawab pada materi ikatan kimia yang akan kita bahas, dengan mengetahui jenis-jenis ikatan kimia kita akan mengetahui dan dapat menjelaskan berbagai macam sifat materi misalnya, mengapa logam dapat menghantarkan listrik sedangkan nonlogam tidak?

Materi ikatan kimia ini akan dibahas menjadi 8 bagian, diantaranya:

Bagian 1 : Aturan Oktet dan Lambang Lewis

Bagian 2 : Ikatan Ion atau Ikatan Elektrovalen

Bagian 3 : Ikatan Kovalen

Bagian 4 : Ikatan Logam

Bagian 5 : Geometri Molekul

Bagian 6 : Kepolaran Senyawa

Bagian 7 : Gaya Tarik Antar Molekul

Bagian 8 : Sifat Senyawa


Sumber : Buku Kimia Airlangga SMK Teknologi Rekayasa

Jumat, 23 Oktober 2015

Dari kesehariannya sendiri karakter anak terbentuk



Kadang kita sering menyalahkan proses pendidikan di sekolah. Sekolah tidak bisa membentuk karakter anak. Apa benar seperti itu? Mari kita sedikit dalami permasalahan tersebut. Yakni mengapa anak tidak memiliki karakter dan sikap yang baik? 

Apa penyebab kemerosotan moral, lemahnya karakter dan sikap yang buruk pada anak usia sekolah?
Ya banyak faktor yang menyebabkan itu terjadi. Kita perhatikan saja kehidupan anak-anak pada saat bangun tidur sampai ia tidur lagi. Apa yang mereka lakukan? Bangun tidur apa yang mereka lakukan? Di sekolah apa yang mereka belajar dengan baik dan benar? Apa yang mereka lakukan dengan teman-temannya di sekolah? Apa kegiatannya selepas sekolah? Apa yang mereka lihat di TV, HP, Note book, laptop, Smartphone, atau tablet mereka? Apa yang mereka baca? Ya, anak belajar dari proses kehidupannya sendiri bukan? Jika kehidupan anak itu baik ia akan terdidik dengan baik, jika keseharian anak itu buruk ia akan mempelajari hal-hal buruk. 

Apa yang harus kita lakukan?

Menciptakan keseharian kehidupan yang baik buat mereka.

Jumat, 26 Juni 2015

DPR minta Dana Aspirasi, Bagaimana Nasib Guru Honor dan Guru swasta kecil non sertifikasi?

Akhir-akhir ini geger dengan berita Anggota DPR meminta Dana Aspirasi dengan total 11,2 Trilyun/Tahun. Per anggota dewan mendapat akan mendapat dana aspirasi 15-20 milyar per tahun. Hanya ada satu kata dalam benak saya “KONYOL”.  PADAHAL POLITIKUS NEGERI BUKAN PAHLAWAN. JADI ANGGOTA DEWAN NEGERI INI GA PERLU PINTER YANG PENTING GEDE BACOT DENGAN GEDE DUIT KAMPANYE. Ya, saya dan kami semua sebagai Guru swasta kecil dan tenaga honorer sangat marah, marah besar.

Mari kita berhitung. 11,2 trilyun apabila digunakan untuk tunjangan guru honor dan guru swasta kecil yang belum sertifikasi per guru mendapat Rp. 1 juta per tahun maka 11,2 juta guru honor dan guru swasta kecil yang belum sertifikasi akan mendapat tunjangan tersebut. Apa guru honor dan guru swasta kecil sebanyak itu? Ingat gaji guru honor dan swasta kecil itu hanya 100 ribu – 500 ribu per bulan. DI MANA HATI NURANI KALIAN PENGUASA DAN PARA WAKIL RAKYAT?

Rabu, 08 April 2015

Menyejahterakan Guru Serumit Itu?

Jika dipikirin kenapa sih mensejahterakan guru honor di sekolah negeri dan swasta kecil sedemikian rumitnya. Apakah kendala alokasi dana untuk itu terbatas sehingga pemerintah tidak mampu? Mendapat tunjangan profesi sedemikian sulit karena swasta kecil jumlah rombongan belajarnya terbatas sehingga terbatas pula jumlah jam/minggunya, harus cari sekolah lain untuk memenuhi target 24 jam / Minggu itu syukur-syukur ada sekolah yang membutuhkan kalau tidak ada? Bahkan harus bolak-balik dari satu sekolah ke sekolah lain di kecamatan yang berbeda? Dengan gaji hanya ratusan ribu guru honor harus rela tekor bensin, servis motor dengan gaji Hanya ratusan ribu. Profesi macam apa ini? 

Saya mengajar mata pelajaran IPA di sekolah swasta kecil mengajar kelas VII, VIII dan IX sekaligus harus membuat Program tahunan, program semester, KKM, Silabus RPP yang berbeda, materi dan media ajar yang berbeda, perangkat evaluasi yang berbeda hanya dihitung 12 jam / Minggu, bandingkan dengan yang lebih beruntung mengajar di sekolah besar cukup kelas VII saja memegang 6 kelas tetapi dengan Program tahunan, program semester, KKM, Silabus RPP yang sama, materi dan media ajar yang sama, perangkat evaluasi yang sama Alhamdulillah 24 jam/Minggu. Adilkah? Adil jika guru tidak direpotkan dengan membuat Program tahunan, program semester, KKM, Silabus RPP, materi dan media ajar, perangkat evaluasi. 

Rubah sistem tunjangan profesi semua guru (PNS, Honorer, swasta) berhak mendapatkan tunjangan profesi. Hapus program PLPG atau PPG untuk guru lulusan S1/S2 Fakultas Ilmu Pendidikan atau lainnya yang sudah berijazah akta IV karena sudah termasuk profesional sebagai guru tanpa harus mengikuti program PLPG atau PPG. Apa masih kurang menjadikan mahasiswa calon guru itu menjadi profesional dengan perkuliahan 4 tahun kuliah apa lagi yang sudah S2 sehingga harus mengikuti PLPG atau PPG yang tergolong singkat. Sama saja merendahkan kampus karena perkuliahannya tidak cukup menjadikan alumninya menjadi profesional sehingga membutuhkan bimbingan program PLPG atau PPG, lucu bukan? Guru memang harus meningkatkan profesionalitasnya toh sudah ada program MGMP, PKG dan supervisi oleh kepala sekolah atau pengawas, ditambah lagi sudah semakin majunya dunia informasi dan telekomunikasi membuat pengembangan kualitas guru menjadi lebih mudah.

Jika saya boleh usul, tunjangan profesi hitung saja /jam guru itu mengajar dikalikan berapa besar uang tunjangan /jamnya. Misal saya mendapat 12 jam/Minggu dengan besar tunjangan pemerintah hanya mampu membayar Rp. 50.000/jamnya berarti saya mendapat tunjangan profesi sebesar Rp. 600.000/Bulan. Di tambah tunjangan Jabatan di buat /jam juga misal jabatan kepala sekolah dihitung 18 jam/Minggu, serta jabatan-jabatan yang lainnya. Semakin guru mendapat jumlah jam yang banyak semakin besar pula tunjangan yang didapat. Adil bukan? 

Semua kembali kepada pemegang kebijakan. Mudah-mudahan kita sebagai guru swasta kecil dan guru honorer lebih sejahtera, lebih jelas masa depannya.