Rabu, 10 Juli 2013

Perjalanan Panjang Curiosity Mencapai Mount Sharp di Mars

CALIFORNIA – Robot penjelajah Mars milik National Aeronautics and Space Administration (NASA), Curiosity, akhirnya melakukan perjalanan terpanjangnya selama berada di planet merah. Di mana, ini akan menjadi target survei terakhirnya.

Adalah Mount Sharp yang menjadi tujuan utama misi akhir robot canggih berpenggerak roda ini. Gunung dengan ketinggian 3,4 mil (sekira 5.500 meter) ini terletak di tengah-tengah kawah Gale.

Dikutip Softpedia,Rabu (10/7/2013), perjalanan pertama menuju pegunungan itu dari daerah Glenelg, lokasi di mana ia pertama kali mendarat, telah dilakukan pada 4 Juli lalu dengan melaju hingga 59 kaki (sekira 18 meter).

Selanjutnya, pada 7 Juli lalu Curiosity kembali melaju hingga 131 kaki atau sekira 40 meter. Diperkirakan jarak yang harus ditempuhnya masih panjang, yakni mencapai sekira lima kaki atau sekira delapan kilometer lagi untuk sampai ke dasar gunung.

Para peneliti memprediksi, Curiosity minimal akan memakan waktu hingga satu tahun untuk dapat mencapai dasar gunung. Meski kemungkinannya kecil, tetapi robot penjelajah ini diharapkan dapat memenuhi tujuan misinya pada 2014 mendatang.

Ditemukan Spesies Tikus Kesturi Baru di Hutan Vietnam

HANOI – Tim peneliti belum lama ini menemukan spesies tikus kesturi baru di Vietnam. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam jurnal edisi terbaru ZooKeys, spesies ini dinamakan Crocidura spaensis.

Penemuan ini merubah pandangan peneliti yang semula meyakini bahwa hutan di negaranya hanya menjadi rumah bagi tiga varietas saja. Jenis tikus kesturi baru ini diketahui memiliki struktur genetik yang berbeda dari tiga jenis lainnya.

“Studi kami awalnya hanya fokus pada tiga spesies Crocidura di Vietnam yakni C. Attenuata, C. Tanakae, dan C. Wuchihensis. Lalu, kami menemukan spesies keempat yang belum terdeskripsikan melalui analisis molekuler,” jelas spesialis Paulina Jenkins, seperti dikutip dari Mongabay, Rabu (10/7/2013).

“Sementara, studi molekuler yang sudah ada mengonfirmasi hasil morfologi kontemporer. Di mana, hasil tersebut menunjukkan ada beberapa morfologis yang mirip tetapi secara molekuler taksa berbeda,” lanjutnya.

Dengan lebih dari 180 spesies yang ditemukan di seluruh Dunia, Crocindura merupakan spesies terbesar dari setiap genus pada mamalia. Tikus ini tergolong omnivora (pemakan daging dan tumbuh-tumbuhan) yang umum mengonsumsi biji, buah, dan hewan invertebrata lainnya.

Sejak 1960-an hingga 1990-an, Vietnam dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki tingkat deforestasi tertinggi di dunia. Namun akibat penutupan hutan yang terjadi di seluruh penjuru negara meningkat, maka banyak habitat beserta spesies terutama mamalia berbadan besar berisiko punah.

Hutan Kuno Bawah Laut 50 Ribu Tahun

MEKSIKO CITY – Sekelompok penyelam baru-baru ini menemukan sebuah hutan kuno yang telah terkubur di dasar laut hingga 50 ribu tahun lamanya. Hutan yang dinamakan Cypress Forest Bald terletak di Teluk Meksiko dengan kedalaman sekira 60 kaki atau sekira Rp18,4 meter.

Diduga, hutan ini tenggelam akibat hantaman dahsyat Badai Katrina. Adapun, hutan kuno dengan luas area 0,5 mil atau sekira 0,8 kilometer ini terdiri dari kayu dan tunggul (pangkal pohon yang masih tertanam di dalam tanah sehabis ditebang).

Nelayan setempat juga kerap melihat banyak ikan dan satwa laut yang senang berkumpul di hutan bawah laut ini yang sudah dianggap sebagai habitatnya yang ‘pas’. Demikian dilansir Softpedia, Selasa (9/7/2013).

Para penyelam menjelaskan, sisa-sisa pohon kuno di hutan Cypress kuno hingga kini masih terjaga dengan baik. Hal ini dikarenakan hutan ini telah melewati ribuan tahun di lingkungan bebas oksigen.

“Anda akan merasa seperti di negeri dongeng ketika melihatnya secara langsung. Ini bagaikan kolam hutan kuno di tengah dasar laut,” ujar salah satu anggota penemu Ben Raines.

Para peneliti ingin menjelajahi hutan kuno ini lebih lanjut. Mereka berharap mendapatkan sokongan dana bantuan guna memelihara biota laut tersebut.

RUU Keantariksaan Resmi Menjadi UU

JAKARTA - DPR akhirnya mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Keantariksaan menjadi UU dalam sidang paripurna, Salasa (9/7/2013). Pengesahan RUU ini untuk menjamin kegiatan keantariksaan nasional, sehingga jelas payung hukumnya.

Menurut Ketua Komisi VII Soetan Bhatugana, posisi geografis Indonesia yang dilewati garis khatulistiwa menjadikan Indonesia ketergantungan keantariksaan.

"Sehingga, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kemaslahatan masyarakat seperti di bidang telekomunikasi yang sudah diamanatkan UUD 1945," kata Soetan, saat sidang paripurna di Gedung DPR, Senayan, Selasa (9/7/2013).

"Saat ini bidang tersebut belum bisa menjawab keantariksaan ke depan untuk itu perlu payung hukum," ujarnya lagi.

Namun sebelum diketok palu untuk disahkan oleh Wakil Ketua DPR Pramono Anung, sempat ada interupsi dari anggota Komisi III Dimyati Natakusuma.

Politikus PDIP ini menilai, RUU Kenatariksaan Bab IX tentang kerjasama dengan pihak asing, harus ada laporan yang akuntabel. "Pihak asing jangan sampai mengganggu kegiatan keantariksaan ini," imbuhnya.

Tak hanya itu, dia juga menyoroti Pasal 64 tentang siapa penanggung jawab dalam penanggulangan kecelakaan wahana antariksa.

"Disini (UU Keantariksaan) hanya tertulis pejabat, siapa pejabat dimaksud. Jangan sampai membuat UU membingungkan penjalan kebijakan," tuturnya.

Menanggapi itu, Pramono Anung mengatakan intrupsi hanya akan dimasukkan ke dalam catatan rapat tanpa adanya perubahan UU Keantariksaan lagi.

Selasa, 09 Juli 2013

Ilmuwan: Manusia Bakal Punya Paruh Pengganti Gigi

SOUTH YORKSHIRE – Ahli biologi dari Sheffield University di Inggris memprediksi dalam beberapa juta tahun dari sekarang, manusia akan mengucapkan selamat tinggal kepada giginya. Sebab, akan terjadi evolusi di mana gigi berganti dengan paruh menyerupai moncong.

“Ada kemungkinan di mana manusia bisa memiliki paruh layaknya ikan buntal,” kata Dr. Gareth Fraser dalam kutipannya di situs Telegraph. Demikian dilansir Softpedia, Senin (8/7/2013).

Fraser menjelaskan bahwa beberapa tahun mendatang, manusia akan terlahir sebagai spesies baru yang berdiri sendiri yang jelas berbeda dari yang sudah ada kini. Di mana, manusia diprediksi mengalami perubahan pola makan yang menyebabkan struktur gigi terbatas sudah tidak lagi sesuai.

Akibatnya, manusia di masa datang hanya akan memiliki dua set gigi ketika mereka masih bayi. Kemudian, ketika menginjak usia dewasa maka ia hanya akan memiliki satu gigi saja untuk berganti menjadi paruh sebagi bentuk penyesuaian dirinya.

Untuk itu, Fraser meneliti apa alasan di balik manusia yang hanya mengalami dua kali suplai set gigi. Sementara itu, ikan hiu bisa menumbuhkan gigi dalam dua minggu sekali. Rupanya, hal ini dipengaruhi oleh sel ‘gigi peri’ yang memacu pertumbuhan gigi.

“Tidak seperti gigi, paruh dapat bertahan dalam rangkaian waktu. Selain itu, paruh akan terlihat lebih kuat dan praktis,” tutup Fraser. Rencananya, ia akan memaparkan identifikasi regenerasi ini dalam sebuah konferensi di Barcelona pertengahan bulan ini.

Teknik Baru IVF Tingkatkan Kesuksesan Pemilihan Embrio

LONDON – Para peneliti mengklaim telah berhasil mengembangkan suatu teknik yang memungkinkan pasangan untuk memiliki bayi dengan cepat dan biaya murah dengan teknik In Vitro Fertilization (IVF).

Tim peneliti dari Oxford University Inggris dan para ahli kesuburan di Amerika Serikat (AS) memaparkan temuan ini dalam sebuah pertemuan Human Reproduction and Embryology.  Sekira lima juta bayi terlahir menggunakan teknik IVF di seluruh dunia.

Meski demikian, hanya ada satu dari tiga siklus IVF yang benar-benar sukses berbuah kehamilan. Dilansir Channel4, Senin (9/7/2013), Dr. Dagan Wells dari Departemen Obstetri dan Ginekologi dari Nuffield mengatakan bahwa pada dasarnya pemilihan benih embrio harus disesuaikan dengan sel telur.

“Embrio hasil fertilisasi dari siklus IVF dipilih berdasarkan tingkat ‘kesehatannya’. Tapi, sebuah teknik baru menjelaskan bahwa semua embrio memiliki potensi cacat akibat kurangnya jumlah kromosom. Di mana, normalnya manusia memiliki 23 pasang kromosom,” jelas Wells mengenai penyebab utama kegagalan embrio.

Teknik ini menggunakan pendekatan yang dapat melihat urutan gen yang dikenal sebagai “next generation sequencing” pada embrio. Prosesnya, sebuah sel tunggal diambil dari dalam tabung yang berisi campuran isi dari tuba falopi atau rahim dengan sperma. Sel ini harus diperiksa terlebih dahulu kromosomnya sebelum ditanamkan ke dalam rahim pendonor atau calon Ibu.

Selanjutnya, next generation sequencing akan menampilkan informasi genetik yang jauh lebih cepat ketimbang metode sebelumnya. Tetapi hingga kini peneliti masih melakukan uji klinis lebih lanjut mengenai keefektifan teknik ini dalam IVF.

Jika terbukti efektif dalam uji klinis, maka secara signifikan dapat mengurangi kemungkinan kelainan kromosom pada embrio. Tak hanya itu saja, besar kemungkinan juga akan menekan biaya teknik IVF sehingga dapat lebih ramah di kantong.

Studi: Rutin Minum Bir Dapat Merusak Fungsi Otak

MADRID – Beberapa ilmuwan pernah mengemukakan bahwa kandungan dalam bir dapat membuat arteri lebih fleksibel dan melancarkan aliran darah. Namun di sisi lain, tidak sedikit juga yang menyatakan bahwa minuman beralkohol dapat merusak fungsi otak.

Salah satunya seperti yang dipaparkan oleh tim peneliti dari University of Santiago de Compostela di Spanyol, orang yang mengonsumsi bir sebanyak tiga gelas per pekan dapat memperlambat fungsi kerja otak hingga 20 persen. Demikian dilansir Softpedia, Selasa (9/7/2013).

Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menyelesaikan berbagai tugasnya. Namun, bukan berarti otak harus bekerja lebih keras dalam memproses isyarat yang diterimanya, seperti yang dijelaskan oleh situs The Inquisitr.

Untuk meneliti seberapa besar efek konsumsi bir terhadap otak manusia,  para peneliti memantau beberapa siswa yang dibagi menjadi dua kelompok selama tiga tahun. Kelompok pertama terdiri dari beberapa peminum pesta (binge drinkers) yang merupakan siswa-siswa yang rutin mengonsumsi bir minimal tiga liter dalam sepekan, sedangkan kelompok lainnya terdiri dari mereka yang jarang mengkonsumsi bir.

Hasilnya ketika kedua kelompok siswa diberikan tes yang sama, otak mereka yang secara teratur minum bir terlihat harus bekerja lebih keras untuk dapat menyelesaikan berbagai tugas yang diberikan, sebaliknya dengan kelompok yang jarang mengonsumsi minuman beralkohol tersebut.

“Binge drinking memiliki risiko lebih besar tidak hanya dalam hal keamanan, tetapi juga kesehatan mereka di masa depan. Ini menunjukkan bahwa kita perlu mengubah budaya konsumsi minuman beralkohol terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa,” ucap direktur kelompok Alcohol Concern, Emily Robinson dalam kampanyenya.

Lebih jauh, tim peneliti juga menduga bahwa jenis minuman beralkohol lainnya juga memiliki dampak yang sama apabila tidak dikonsumsi dalam jumlah sedang.