Sabtu, 25 Januari 2014

Sepenggal kisah dalam Novel Berakhir Di Malaka


Aku telah memilihmu menjadi pendamping hidupku maka aku pun telah bersiap menghadapi segala apa yang ada pada dirimu. Entah lebih atau kurangmu.. Sebelum aku menikahimu aku telah menyadari bahwa kamu tidak akan selamanya nampak cantik di hadapanku. Suatu saat wajahmu akan kusam atau terlihat lelah karena mengurus pekerjaan rumah tangga yang menumpuk. Mungkin engkau akan bau asap karena seharian memasak di dapur. Mungkin pula engkau tidak sempat berdandan menyambutku pulang karena kesibukanmu mengurus anak-anak kita dan pekerjaan rumah. Aku tahu bahwa kamu bukanlah Khodijah yang begitu bijaksana. Kamu bukan pula Aisyah yang begitu sabar. Dan bukan pula Fatimah. Kamu hanyalah wanita biasa yang mencoba menjadikan mereka sebagai tauladan. Begitu pun aku.. Aku hanyalah lelaki biasa yang suatu saat engkau akan melihatku marah tak terkontrol. Suatu saat engkau akan melihat begitu banyak kekurangan diriku. Tapi satu hal yang aku harapkan darimu. Tetaplah setia padaku.. Jika suatu saat engkau menemui aku berbuat kesalahan, maka maafkanlah aku. Aku ingin kita saling percaya dan saling mencinta hingga menua.”

Puteri memeluk erat tubuh suaminya dan menangis di bahunya. Ia menangis bukan karena tersakiti namun karena bahagia. Ia sangat bersyukur telah dipertemukan dengan seorang suami yang begitu memahaminya. Ia akan mendengarkan segala apa yang disampaikan suami tercinta. Ia akan mencoba untuk tetap setia walau apa pun yang nantinya kan terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar