Selasa, 20 Januari 2015

Bob Sadino, inspirator pengusaha

Dunia entrepreneur (kewirausahaan/pengusaha) kehilangan inspiratornya, Bob Sadino. Pengusaha sukses, yang mulai dari susah payah, jatuh bangun, dengan kesederhanaan, dan suka berbagi kiat sukses kepada siapapun yang mau buka usaha, itu pergi meninggalkan kita selamanya. Bob telah memberikan bukti, betapa susah sekaligus nikmatnya berbisnis. Mungkin gagal mungkin sukses. Tapi, Bob bukan sekadar bicara layaknya motivator-motivator yang sering tampil di TV yang tak pernah punya bisnis, cuma bicara saja, tapi Bob memberi contoh kehidupannya. Nyata, fakta, bukan maya dan khayal yang cuma dibungkus kata dan kalimat indah.

 Meski sudah meninggal, Bob akan dikenang. Banyak ilmu yang ditorehkan dari segala upaya dan usahanya yang riil selama ini. Juga dibukukan dan sering diseminarkan. Rendah hati dan mau berbagi pada siapapun yang mau usaha. Ia sengaja begitu karena mau menyisakan dokumentasi penting: Saya tak mau pengalaman dan pengetahuan saya terkubur bersama tubuh saya ketika mati kelak. Ucapan ini memiliki pesan yang kuat, hari-hari ini. Dia membuktikan ketika dia sudah wafat. Beberapa grup atau komunitas wirausaha atau berusaha, seperti Tangan Di Atas (TDA), Akademi Berbagi, Entrepreneur Jakarta, Entrepeneur Corner Kaskus, Just Do Action (JDA Community), Ads-ID, Komunitas Entrepreneur Muda (KEM), Ciputra Entrepreneurship, dan masih banyak lagi, ramai membicarakan perginya bapak entrepreneur nyentrik ini. Bukan sekadar berita wafatnya, tapi menggali kembali wisdom, nasihat, dan ajaran-ajarannya, justru ketika makamnya justru belum digali.

 Bagi para pengusaha, Bob Sadino adalah teladan, guru hidup, juga punya ajaran jelas karena terdokumentasi dalam beberapa buku seperti Belajar Goblok dari Bob Sadino, Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila, dan berbagai tulisan orang yang mensarikan dari ucapan-ucapannya di seminar. Beberapa pelajaran yang singkat misalnya; (1) kalau mau bisnis harus berani, (2) jangan terlalu banyak analisis, (3) sadar sukses tidak instan, (4) punya mimpi/cita-cita besar, (5) yakin & positif thinking.

 Bob, namanya lengkapnya Bambang Mustari Sadino, lahir Lampung 9 Maret 1933 lalu, anak kelima dari lima bersaudara keluarga Sadino. Dia dikenal suka celana pendek, bilang pikirannya pendek, tapi meyakini langkah panjang dimulai dari langkah yang pendek-pendek. Ayahnya, Pak Sadino, seorang guru asal Solo yang mengajar sekolah lanjutan di Bandarlampung. Bob menemui kenyataan hidup yang membelokkan seluruh hidupnya ketika 19 tahun, saat ayahnya meninggal. Harta orang tuanya dipakai jalan-jalan sampai Belanda. Bekerja di sana, mulai dari bawah, pegawai rendahan dan kotor. Pernah jadi karyawan Unilever, Jakarta Lloyd (Amsterdam dan Hamburg), akhirnya sadar hidup jadi karyawan tak akan mengubah drastis mimpinya. Dia pulang ke Jakarta dengan mobil Mercy-nya, disewakan dan dia jadi sopir sekaligus. Mobilnya tabrakan, dia bangkrut dan stress. Lalu ternak ayam petelor, mulailah merambah usaha makanan, sayur hidroponik, buka supermarket Kemchick dan suplier sosis Kemfood, sayuran hydroponik KemFarm. Itulah sekelumit liku hidupnya. Sebagai aksentuasi simbol mengenangnya, adalah bapak entrepreneur bercelana pendek.


Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang. Bob mengingatkan kata-kata bijak dari Mahatma Gandhi, yang bilang bahwa kita harus bertindak..bertindak..dan bertindak. Sebab, Gandhi bilang, kita tak akan pernah tahu apakah usaha yang kita lakukan berhasil atau tidak, tapi kalau kita tak melakukan sudah pasti tak dapat apa-apa. Tampaknya Bob menyadari setiap usaha selalu ada risiko. Ini juga dalam konsep kekinian, bisa kita temui dalam satu falsafah entrepreneur dunia Mark Zuckerberg. Bahwa risiko terbesar justru kalau kita tidak mengambil risiko. Sebab di dunia yang berubah cepat, satu-satunya strategi yang dijamin gagal itu adalah jika tak berani ambil risiko. Banyak kalimatnya yang terngiang di kuping, bikin gemes orang untuk kemudian memulai usaha. Suatu ketika Bob Sadino ditanya bisnis apa yang bagus. Dengan enteng dijawab: Bisnis yang bagus itu yang DIBUKA, bukan ditanya terus!

 Anda setuju dengan ucapan beliau?

 Sumber : merdeka.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar