Selasa, 20 Januari 2015

Jenderal Hoegeng, Polisi Jujur Anti-Korupsi

Kehidupan Hoegeng sebagai perwira polisi hanya pas-pasan. Oleh karena itu, istri Hoegeng, Merry Roeslani, membuka toko bunga untuk membantu perekonomian keluarga. Dan toko itu cukup laris. Namun, Hoegeng melarang sang istri melanjutkan toko itu. `Perintah` itu dikeluarkan sehari menjelang dilantik menjadi Kepala Jawatan Imigrasi (kini jabatan ini disebut dirjen imigrasi) tahun 1960.

 Merry tentu saja bertanya, mengapa toko itu harus ditutup. Apa hubungannya jabatan kepala jawatan imigrasi dengan dengan toko bunga? "Nanti semua orang yang berurusan dengan imigrasi akan memesan kembang pada toko kembang ibu, dan ini tidak adil untuk toko-toko kembang lainnya," jelas Hoegeng. Mendapat penjelasan itu, Merry pun bisa memahami dan mendukung suaminya untuk hidup jujur dan bersih. Dia rela menutup toko bunga yang sudah maju dan besar itu. "Bapak tak ingin orang-orang beli bunga di toko itu karena jabatan bapak," kata Merry.

Dirayu Pengusaha

Sebagai pejabat, Hoegeng pernah merasakan godaan suap. Dia pernah dirayu pengusaha cantik keturunan Makassar-Tionghoa yang terlibat kasus penyelundupan. Wanita itu meminta Hoegeng menghentikan kasus itu. Berbagai hadiah mewah dikirim ke alamat Hoegeng. Namun dia menolak mentah-mentah. Hadiah itu langsung dikembalikan. Tapi si wanita tak putus asa. Dia terus mendekati Hoegeng.Yang membuat Hoegeng heran, malah koleganya di kepolisian dan kejaksaan yang memintanya melepaskan wanita itu.

Marahi Anak Buat SIM Lewat Calo

Pernah suatu kali anaknya memperoleh sebuah sepeda yang di masanya sangat keren dan mahal. Entah dari siapa. Hoegeng menolak sepeda itu dan diletakkannya begitu saja di depan rumah. Lebih ekstrem lagi, suatu kali anaknya pernah mengurus SIM dengan cara cepat menggunakan jasa anak buahnya. Namun, entah darimana Hoegeng tahu perbuatan anaknya itu. Saat SIM selesai dibuat, ia segera menelepon polisi yang mengurusi pembuatan SIM agar tidak memberikan anaknya SIM sebelum mengikuti prosedur yang berlaku. Lebih dari itu, anak kesayangannya pun ditegur keras.

Jenderal Jalanan

Hoegeng tak hanya dikenal jujur. Dia juga tak segan turun ke lapangan melaksanakan tugas sebagai polisi. Meski berpangkat jenderal, dia tak segan turun ke jalan mengatur arus lalulintas.

Menurut Hoegeng, seorang polisi adalah pelayan masyarakat. Mulai polisi berpangkat terendah sampai tertinggi. Sehingga, dalam posisi sosial demikian, seorang agen polisi sama saja dengan seorang jenderal. "Jika terjadi kemacetan di sebuah perempatan yang sibuk, dengan baju dinas Kapolri, Hoegeng akan menjalankan tugas seorang polantas di jalan raya. Itu dilakukan Hoegeng dengan ikhlas seraya memberi contoh kepada anggota polisi yang lain tentang motivasi dan kecintaan pada profesi," demikian ditulis dalam buku Hoegeng-Oase menyejukkan di tengah perilaku koruptif para pemimpin bangsa. Hoegeng juga selalu tiba di Mabes Polri sebelum pukul 07.00 WIB. Sebelum sampai di kantor, dia memilih rute yang berbeda dan berputar dahulu dari rumahnya di Menteng, Jakarta Pusat. Dia selalu ingin memantau lalulintas dan kesiapsiagaan aparat kepolisian di jalan.

Upeti Raja Judi

Ini kisah Hoegeng saat masih berpangkat Kompol. Kala itu warsa 1955. Dia mendapat perintah pindah ke Medan. Dia ditugasi membongkar penyelundupan dan perjudian. Para bandar judi telah menyuap aparat di Medan. Sehingga pisau keadilan menjadi tumpul. Hoegeng diangkat menjadi Kepala Direktorat Reskrim Kantor Polisi Sumut. Dia pindah dari Surabaya ke Medan. Dan belum punya rumah dinas. Baru saja Hoegeng mendarat di Pelabuhan Belawan, utusan seorang bandar judi sudah mendekatinya. Utusan itu menyampaikan selamat datang dan juga mengatakan sudah ada mobil dan rumah untuk Hoegeng hadiah dari para pengusaha. Hoegeng menolak dengan halus. Dia memilih tinggal di Hotel De Boer menunggu sampai rumah dinasnya tersedia. Kira-kira dua bulan kemudian, saat rumah dinas di Jl Rivai siap ditinggali, Hoegeng terkejut bukan kepalang. Rumah dinas itu sudah penuh barang-barang mewah. Ternyata barang itu lagi-lagi hadiah dari para bandar judi. Utusan yang menemui Hoegeng di Pelabuhan Belawan datang lagi. Tapi Hoegeng malah meminta agar barang-barang mewah itu dikeluarkan dari rumahnya. Hingga waktu yang ditentukan, utusan itu juga tidak memindahkan barang-barang mewah tersebut. Sehingga dia memerintahkan polisi pembantunya dan para kuli angkut mengeluarkan barang-barang itu dari rumahnya. Diletakkan begitu saja di depan rumah.

Hoegeng geram mendapati para polisi, jaksa dan tentara disuap dan hanya menjadi kacung para bandar judi. "Sebuah kenyataan yang amat memalukan," ujar Hoegeng.

Polisi Jangan Mau Dibeli

Mantan Kapolri Jenderal Polisi Widodo Budidarmo punya kenangan soal Hoegeng. Widodo ingat betul pesan Hoegeng padanya. "Mas Widodo jangan sampai kendor memberantas perjudian dan penyelundupan karena mereka ini orang-orang yang berbahaya. Suka menyuap. Jangan sampai polisi bisa dibeli," tutur Widodo menirukan pesan Hoegeng. Widodo tahu Hoegeng tidak asal memberikan perintah. Hoegeng telah membuktikan dirinya memang tidak bisa dibeli. Sejak menjadi perwira polisi di Medan, Hoegeng terkenal karena keberanian dan kejujurannya. Dia tak sudi menerima suap sepeser pun. Barang-barang hadiah pemberian penjudi dilemparkannya keluar rumah. "Kata-kata mutiara yang masih saya ingat dari Pak Hoegeng adalah baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik," kenang Widodo.

Widodo bahkan menyamakan mantan atasannya dengan Elliot Ness, penegak hukum legendaris yang memerangi gembong mafia Al Capone di Chicago, Amerika Serikat. Saat itu, mafia menyuap hampir seluruh polisi, jaksa dan hakim di Chicago. Karena itu mereka bebas menjalankan aksi-aksi kriminal.

Tapi saat itu Elliot Ness dan kelompoknya yang dikenal sebagai The Untouchables atau mereka yang tak tersentuh suap, berhasil mengobrak-abrik kelompok gengster itu. "Pak Hoegeng itu tak kenal kompromi dan selalu bekerja keras memberantas kejahatan," jelas Widodo.  

Sumber : dream.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar